Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau yang tersebar di wilayah yang sangat luas, Indonesia menghadapi tantangan geospasial yang kompleks dalam menjaga konektivitas, pemerataan pembangunan, dan keamanan wilayah. Kondisi ini menjadikan teknologi antariksa, khususnya satelit, sebagai kebutuhan strategis yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional. Satelit berperan sebagai penghubung antar-ruang yang terpisah oleh laut, topografi ekstrem, dan keterbatasan infrastruktur darat sehingga memungkinkan integrasi wilayah secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit BRIN, Wahyudi Hasbi, menyatakan bahwa tanpa dukungan teknologi satelit, berbagai aspek penting, seperti komunikasi nasional, pengelolaan sumber daya alam, hingga penguatan ketahanan dan keamanan wilayah, akan sulit diwujudkan secara optimal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Kolokium Seri-1 yang membahas integrasi rekayasa sistem satelit LAPAN-A3/LAPAN-IPB, yang menegaskan bahwa satelit merupakan tulang punggung sistem spasial nasional dalam menjawab tantangan geografis Indonesia.
Dilansir dari laman resmi BRIN, sejak mengoperasikan satelit domestik pertama pada 1976, Indonesia telah memanfaatkan teknologi antariksa untuk mendukung telekomunikasi, pengamatan bumi, navigasi, serta pemantauan cuaca dan iklim. Dalam praktiknya, data satelit menjadi basis penting dalam perencanaan infrastruktur, pengelolaan tata guna lahan, mitigasi bencana, dan pengawasan wilayah maritim. Data ini memungkinkan analisis spasial-temporal yang akurat untuk mendukung pengambilan keputusan lintas sektor, termasuk pertahanan, kesehatan, dan pendidikan, terutama di wilayah terpencil dan perbatasan.
Lebih lanjut, Wahyudi menekankan bahwa pengembangan satelit oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan pembelajaran strategis bagi penguatan keantariksaan nasional. Pendekatan mikrosatelit terbukti mampu menekan biaya pengembangan dan peluncuran tanpa mengurangi fungsi strategis, terutama untuk pemantauan bencana, pengawasan wilayah maritim, dan penilaian sektor pertanian. Keterlibatan perguruan tinggi serta kolaborasi internasional memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan penguasaan teknologi, sementara prinsip perancangan yang sederhana, tepat guna, dan adaptif memastikan satelit benar-benar menjawab kebutuhan nasional secara efektif.
