Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Kebencanaan BRIN Manfaatkan Pemetaan Satelit dan Drone untuk P...
Kebencanaan

BRIN Manfaatkan Pemetaan Satelit dan Drone untuk Penanganan Banjir di Sumatera

BRIN Manfaatkan Pemetaan Satelit dan Drone untuk Penanganan Banjir di Sumatera

BRIN menegaskan kesiapan penuh dalam mendukung penanggulangan banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kepala BRIN, Arif Satria, dalam RDP bersama Komisi X DPR RI, menyampaikan bahwa BRIN hadir untuk memberikan kontribusi ilmiah dalam mempercepat respons pemerintah terhadap bencana. Ia menegaskan bahwa arahan Presiden menuntut BRIN untuk selalu terlibat dalam program strategis nasional, termasuk dalam situasi darurat yang membutuhkan keputusan cepat dan berbasis data.

Sejak awal bencana, BRIN langsung berkoordinasi dengan BNPB melalui penyediaan dan analisis citra satelit sebagai fondasi geospasial untuk memahami kondisi banjir secara menyeluruh. Pendekatan ini tidak hanya menghasilkan gambar permukaan, tetapi juga analisis spasial mendalam yang dapat diterapkan sebagai dasar kebijakan. Melalui Task Force yang mencakup tim citra satelit, survei-pemetaan, dan inovasi teknologi, BRIN memastikan bahwa informasi yang diberikan mampu mempercepat identifikasi wilayah terdampak dan kebutuhan intervensi.

BRIN memanfaatkan citra SAR Sentinel–1A untuk menghasilkan 83 grid data dan 95 peta estimasi area terdampak yang menggambarkan sebaran banjir di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Analisis geospasial ini memungkinkan pemodelan banjir secara lebih akurat, termasuk pengidentifikasian 118 daerah aliran sungai (DAS) yang terdampak. Selain itu, BRIN menghasilkan 15 peta objek terdampak yang memuat informasi geometri jalan putus, kerusakan bangunan, dan jembatan sehingga memberikan gambaran ruang yang komprehensif terkait dampak bencana. Data tersebut kemudian diserahkan kepada BNPB sebagai basis intervensi lapangan.

Baca juga: Intip Keunggulan Satelit Sentinel-1 yang Digunakan BRIN untuk Tangani Banjir Sumatera

Dalam mendukung kebutuhan darurat, BRIN juga mengirimkan teknologi Arsinum, kendaraan pengolah air keruh menjadi air minum dengan kapasitas 2–4 ton per hari. Teknologi ini sangat penting untuk daerah dengan akses air bersih yang terputus akibat banjir. Selain itu, drone radar dengan kemampuan deteksi hingga 100 meter di bawah permukaan tanah digunakan untuk menemukan korban tertimbun serta memahami perubahan struktur tanah pascabencana. Inovasi geospasial ini mempercepat asesmen lapangan dengan tingkat akurasi tinggi.

BRIN turut melakukan riset epidemiologi untuk menganalisis risiko kesehatan yang muncul setelah banjir, memastikan mitigasi kesehatan yang lebih komprehensif di fase pemulihan. Sebagai penutup, Arif menegaskan bahwa BRIN tidak hanya hadir untuk memetakan bencana, tetapi juga untuk menyediakan dasar ilmiah yang kuat agar pemerintah dapat mengambil keputusan cepat, tepat, dan efektif. Pendekatan sains dan teknologi menjadi instrumen utama BRIN dalam memastikan keselamatan masyarakat di tengah ancaman bencana.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!