Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Kebencanaan Intip Keunggulan Satelit Sentinel-1 yang Digunakan...
Kebencanaan

Intip Keunggulan Satelit Sentinel-1 yang Digunakan BRIN untuk Tangani Banjir Sumatera

Intip Keunggulan Satelit Sentinel-1 yang Digunakan BRIN untuk Tangani Banjir Sumatera

Bencana banjir dan longsor yang meluas di Sumatera Utara dan Aceh kembali menegaskan pentingnya membaca ruang melalui teknologi canggih. Dalam situasi ketika hujan pekat menutup jarak pandang dan aliran sungai tak lagi mengikuti pola lamanya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengerahkan dukungan berbasis geospasial sebagai poros penanganan bencana.

Ketua Task Force BRIN, Joko Widodo, menegaskan bahwa respons cepat lembaganya berangkat dari kemampuan ilmiah yang terukur. “BRIN hadir dengan pendekatan ilmiah. Kami memastikan seluruh kemampuan riset, teknologi, dan SDM yang dimiliki dapat digunakan secara optimal untuk membantu masyarakat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin, 1 Desember 2025.

Unit pemrosesan data satelit BRIN mengaktifkan pemetaan darurat menggunakan radar Sentinel-1, teknologi pengindraan jauh yang mampu menembus awan dan hujan. Kemampuan itu menjadi sebuah keunggulan pada kondisi cuaca ekstrem. Dari analisis citra radar, tim memetakan persebaran banjir di Aceh dan Sumatera Utara, lalu mengonversinya menjadi peta genangan terkini yang langsung didistribusikan kepada pemerintah daerah, BNPB, hingga komunitas geospasial.

“Data ini sangat penting untuk memahami sebaran genangan terkini dan mendukung penentuan prioritas penanganan di lapangan,” kata Joko. Dengan pemetaan berbasis radar, batas-batas genangan terlihat jelas, seperti jalur sungai yang meluap, permukiman yang terendam, hingga kawasan sawah yang berubah menjadi kolam air.

Keunggulan Satelit Sentinel-1

Sejak satelit Sentinel-1 mengorbit Bumi sebagai bagian dari Copernicus Programme, kemampuan pengindraan jauh untuk memantau permukaan planet ini berubah secara signifikan. Teknologi radar aktif (Synthetic Aperture Radar—SAR) milik Sentinel-1 memungkinkan penglihatan yang tak kenal cuaca, waktu, atau tutupan awan.

Berdasarkan sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Natural Hazards and Earth System Sciences, karena radar memancarkan gelombang mikro sendiri, Sentinel-1 mampu mendeteksi kondisi permukaan Bumi, bahkan di malam hari atau saat hujan lebat. Hasilnya, data spasial tersedia secara berlanjut, tanpa tergantung pada cahaya matahari atau kondisi cuaca. Dengan resolusi spasial yang relatif tinggi (sekitar 10 meter) dan cakupan lintasan yang lebar, satelit ini efektif memetakan area luas secara cepat.

Dari sisi temporal, karena Sentinel-1 bekerja dalam konstelasi (dua satelit), pengambilan citra ulang (revisit) dapat dilakukan secara reguler dalam rentang beberapa hari. Hal ini memungkinkan pemantauan perubahan lahan, tutupan vegetasi, maupun dinamika air secara berkala. Hal tersebut penting bagi upaya deteksi cepat atas bencana atau perubahan lingkungan.

Di kawasan tropis dengan awan dan hujan hampir sepanjang tahun, citra optis sering mengalami gangguan. Sentinel-1 SAR bisa “menembus” hambatan tersebut sehingga perubahan tutupan hutan, pembukaan lahan, atau konversi lahan dapat dideteksi dengan lebih konsisten. Dalam kondisi darurat, seperti banjir, longsor, atau bencana alam lain, data Sentinel-1 dapat membantu tim tanggap bencana memetakan lokasi terdampak, menentukan prioritas evakuasi/penyelamatan, dan mendistribusikan bantuan berdasarkan analisis spasial yang akurat.

Menentukan Lokasi Prioritas dengan Analisis Ruang

Dengan cakupan bencana yang sangat luas, BRIN menggunakan pendekatan spasial untuk menentukan titik-titik prioritas bantuan. Kombinasi peta genangan, ketinggian wilayah, kepadatan penduduk, dan akses infrastruktur menjadi dasar untuk mengidentifikasi area dengan risiko dan urgensi paling tinggi.

“Kami bergerak hari ini, bukan besok. Task Force BRIN akan bekerja bersama seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bantuan berbasis riset hadir bagi masyarakat yang membutuhkan,” jelas Joko.

Selain pemetaan banjir, BRIN juga memfokuskan upaya pada pemenuhan air bersih dan air siap minum. Unit Air Siap Minum (Arsinum) sedang diperiksa untuk memastikan kesiapan operasional dalam tanggap darurat. Menurut Joko, kebutuhan air bersih menjadi krusial karena banyak infrastruktur air lokal ikut terdampak. Di banyak lokasi, suplai air kemasan tidak mencukupi kebutuhan ribuan warga yang tersebar di area luas.

Di sektor kesehatan, BRIN menyiapkan tenaga medis, psikolog, dan ahli kesehatan lingkungan untuk wilayah yang terdampak paling parah. “Bencana banjir tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan psikologis warga. Tim kami siap membantu pemerintah daerah dalam memberikan dukungan medis dan psikososial,” jelasnya.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!