Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home BRIN BRIN Lakukan Uji Forensik Kayu untuk Membaca Akar...
BRIN

BRIN Lakukan Uji Forensik Kayu untuk Membaca Akar Bencana Hidrometeorologi Sumatera

BRIN Lakukan Uji Forensik Kayu untuk Membaca Akar Bencana Hidrometeorologi Sumatera

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Task Force Supporting Penanggulangan Bencana melakukan kajian forensik kayu sebagai bagian dari analisis geospasial bencana banjir dan longsor di Sumatera. Pendekatan ini digunakan untuk menelusuri asal, jenis, dan mekanisme pergerakan kayu yang terbawa arus bencana. Material kayu yang hanyut dipandang sebagai penanda alami yang merekam proses perpindahan massa dari wilayah hulu ke hilir sehingga dapat membantu mengungkap keterkaitan antara kondisi tutupan hutan, morfologi DAS, dan intensitas bencana hidrometeorologi.

Kajian tersebut dipimpin oleh Peneliti Ahli Utama BRIN bidang forensik kayu, Ratih Damayanti, bersama tim multidisiplin yang melibatkan peneliti biomassa BRIN, akademisi kehutanan dari Universitas Sumatera Utara, serta dukungan Balai Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan, Xylarium Bogoriense, dan Polri. Kolaborasi ini memperkuat validitas analisis karena menggabungkan data ilmiah, spasial, dan aspek penegakan hukum dalam satu kerangka kajian.

Pengambilan data lapangan dilakukan di sejumlah lokasi dengan akumulasi kayu signifikan, seperti DAS Garoga di Kabupaten Tapanuli Selatan, wilayah Tapanuli Tengah, Aceh, serta rencana survei lanjutan di Sumatera Barat. Secara geospasial, titik-titik tersebut berada pada jalur aliran utama banjir dan longsor. Sebaran kayu yang ditemukan kemudian dipetakan untuk membaca arah aliran, energi bencana, serta keterkaitannya dengan topografi dan penggunaan lahan di kawasan hulu.

Gambar 1

Di lapangan, tim melakukan pengambilan sampel kayu dan tanah, menyusun plot pengamatan, serta menghitung volume kayu secara kuantitatif. Kayu kemudian diklasifikasikan berdasarkan asalnya, apakah berasal dari aktivitas penebangan, tumbang alami akibat pelapukan, atau tercabut oleh longsor dan banjir. Identifikasi jenis kayu dilakukan melalui analisis struktur anatomi, yang diperkuat dengan pengujian genetika dan spektrometri massa oleh Laboratorium Genetika Hutan IPB University. Seluruh temuan tersebut diintegrasikan dengan peta DAS dan citra satelit.

Hasil uji forensik kayu ini menjadi penguat analisis citra satelit yang selama ini digunakan dalam pemetaan bencana. Integrasi data lapangan dan data keantariksaan memungkinkan rekonstruksi proses bencana secara lebih utuh dan objektif, sekaligus menjadi dasar ilmiah bagi perumusan kebijakan mitigasi, rehabilitasi wilayah terdampak, serta pencegahan bencana berbasis analisis geospasial.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!