Serangan militer Amerika Serikat terhadap Venezuela pada Sabtu, 3 Januari 2026 menjadi peristiwa geopolitik besar yang langsung mengguncang stabilitas kawasan Amerika Latin. Ibu kota Caracas berubah menjadi pusat operasi militer ketika ledakan terdengar di berbagai titik strategis. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro telah ditangkap dan diterbangkan ke luar negeri bersama istrinya.
Baca juga: Mengurai Peta Serangan Amerika Serikat di Venezuela hingga Libatkan Intelijen Geospasial
Dari sudut pandang analisis geospasial, pola serangan menunjukkan fokus pada simpul kekuatan militer dan kendali negara. Ledakan dan asap hitam terpantau di kompleks Fuerte Tiuna dan La Carlota Airbase, dua lokasi yang berada dalam radius perkotaan strategis. Pemadaman listrik meluas memperkuat indikasi bahwa serangan dirancang untuk melumpuhkan infrastruktur komando, komunikasi, dan mobilitas militer dalam waktu singkat.
Pengungkapan lebih rinci datang dari analis geospatial intelligence John Marque. Ia menyatakan bahwa dalam operasi bertajuk “Operation Absolute Resolve”, militer Amerika secara sistematis menjadikan Fuerte Tiuna dan La Carlota Airbase sebagai sasaran utama dan terlibat langsung dalam aksi ofensif. Ia juga menjelaskan bahwa Higuerote Airfield diserang dengan tujuan menekan sistem pertahanan udara lawan. Pernyataan ini menegaskan bahwa pemilihan target tidak bersifat acak, melainkan berbasis pemetaan geospasial dan analisis fungsi tiap lokasi.
