Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Geopolitik Mengurai Peta Serangan Amerika Serikat di Venezuel...
Geopolitik

Mengurai Peta Serangan Amerika Serikat di Venezuela hingga Libatkan Intelijen Geospasial

Mengurai Peta Serangan Amerika Serikat di Venezuela hingga Libatkan Intelijen Geospasial

Dalam sebuah skenario operasi militer besar yang berlangsung sebelum fajar, Amerika Serikat melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Venezuela dan mengeksekusi penangkapan Presiden Nicolás Maduro serta istrinya, Cilia Flores. Dalam narasi ini, operasi terjadi pada Sabtu, 3 Januari, dan berlangsung hanya 2,5 jam sebelum keduanya diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan narkotika.

Pengumuman penangkapan itu disampaikan Presiden Donald Trump pada pukul 4.21 pagi waktu setempat melalui Truth Social. “Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro,” tulisnya. Trump menambahkan bahwa Maduro dan istrinya telah dievakuasi keluar dari wilayah Venezuela tanpa menimbulkan korban dari pihak AS.

Kunci operasi ini digambarkan terletak pada koordinasi intelijen lintas lembaga, termasuk Central Intelligence Agency (CIA), National Security Agency (NSA), dan National Geospatial-Intelligence Agency (NGA). Dilaporkan USA Today, Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, menjelaskan bahwa misi ini melibatkan lebih dari 150 pesawat dan berbulan-bulan pengintaian. Menurut Caine, keberhasilan itu ditopang oleh proses pemetaan intensif terhadap seluruh pergerakan Maduro, mulai dari lokasi tinggal, pola perjalanan, hingga rutinitas harian. Analisis geospasial ini memungkinkan pasukan khusus Amerika, termasuk US Army Delta Force, mengeksekusi penyergapan dengan presisi tinggi.

Gambar 1

Teknologi geospasial juga memperkuat pemantauan terhadap aktivitas militer Venezuela, jalur udara, serta kondisi taktis di lapangan. Semuanya terangkum dalam peta operasi terintegrasi yang menjadi dasar penyusunan strategi serangan.

Gambar 2

Dilansir dari EL PAÍS, sepekan sebelum operasi, Federal Aviation Administration (FAA) telah mengeluarkan peringatan terhadap maskapai internasional terkait aktivitas militer di wilayah udara Venezuela. Maskapai seperti Iberia, Air Europa, TAP, Avianca, dan Gol memperpanjang penangguhan rute hingga 31 Januari.

Pada Sabtu pukul 06.00 UTC, FAA memperketat aturan dengan melarang seluruh pesawat AS melintasi wilayah udara Venezuela. Di peta penerbangan publik, seperti Flightradar24, langit Venezuela terlihat kosong, memperlihatkan tanda bahwa wilayah itu telah disterilkan dari lalu lintas sipil sebelum operasi militer digelar.

Sejak awal tahun, skenario ini menggambarkan AS telah menempatkan kekuatan militer besar di perairan Amerika Tengah, termasuk 3.000 personel, kapal induk, pesawat pengintai, hingga bomber. Langkah ini selaras dengan kampanye AS yang menargetkan kapal-kapal penyelundup narkoba di Karibia dan Pasifik Barat.

Menurut data ACLED, pesawat AS telah menyerang 18 kapal yang dicurigai sebagai pengangkut narkoba, delapan di antaranya berasal dari Venezuela. Pemetaan geospasial terhadap rute laut, pola pergerakan kapal, dan lokasi operasi menjadi dasar sejumlah keputusan taktis tersebut.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!