Dalam sebuah skenario operasi militer besar yang berlangsung sebelum fajar, Amerika Serikat melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Venezuela dan mengeksekusi penangkapan Presiden Nicolás Maduro serta istrinya, Cilia Flores. Dalam narasi ini, operasi terjadi pada Sabtu, 3 Januari, dan berlangsung hanya 2,5 jam sebelum keduanya diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan narkotika.
Pengumuman penangkapan itu disampaikan Presiden Donald Trump pada pukul 4.21 pagi waktu setempat melalui Truth Social. “Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan skala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro,” tulisnya. Trump menambahkan bahwa Maduro dan istrinya telah dievakuasi keluar dari wilayah Venezuela tanpa menimbulkan korban dari pihak AS.
Kunci operasi ini digambarkan terletak pada koordinasi intelijen lintas lembaga, termasuk Central Intelligence Agency (CIA), National Security Agency (NSA), dan National Geospatial-Intelligence Agency (NGA). Dilaporkan USA Today, Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, menjelaskan bahwa misi ini melibatkan lebih dari 150 pesawat dan berbulan-bulan pengintaian. Menurut Caine, keberhasilan itu ditopang oleh proses pemetaan intensif terhadap seluruh pergerakan Maduro, mulai dari lokasi tinggal, pola perjalanan, hingga rutinitas harian. Analisis geospasial ini memungkinkan pasukan khusus Amerika, termasuk US Army Delta Force, mengeksekusi penyergapan dengan presisi tinggi.
