Dalam sejarah panjang peradaban manusia, peta bukan sekadar alat navigasi, melainkan juga jendela pengetahuan untuk memahami dunia. Sejak masa kuno, manusia berusaha merekam bentuk bumi, laut, dan wilayah yang mereka kenal. Namun, baru pada abad pertengahan muncullah sosok yang berhasil menyatukan ilmu, pengalaman, serta tradisi lintas budaya ke dalam karya monumental yang memengaruhi dunia selama berabad-abad. Dialah Muhammad Al-Idrisi, seorang ilmuwan, geografer, sekaligus kartografer muslim yang dikenal sebagai pencipta salah satu peta dunia paling berpengaruh dalam sejarah.
Menempatkan Fondasi Pemetaan
Al-Idrisi lahir sekitar tahun 1100 di Ceuta, Afrika Utara yang saat itu menjadi bagian dari kekuasaan Almoravid. Ia berasal dari keluarga bangsawan Hammudid yang mengklaim keturunan Nabi Muhammad. Pendidikan awalnya ditempuh di Kordoba, pusat ilmu pengetahuan di Andalusia. Perjalanan panjang ke Afrika Utara, Semenanjung Iberia, hingga Anatolia membuatnya memperoleh wawasan geografis yang luas. Ketika Raja Roger II dari Sisilia membutuhkan seorang ahli geografi untuk menyusun peta dunia yang komprehensif, Al-Idrisi pun dipanggil ke Palermo pada tahun 1145.
Karya terbesar Al-Idrisi adalah Tabula Rogeriana atau Nuzhat al-mushtāq fī ikhtirāq al-āfāq, yang selesai pada 1154. Peta ini bukan sekadar planisfer, melainkan juga disertai 70 peta regional yang memetakan dunia dari Eropa, Afrika, hingga Asia. Salah satu ciri uniknya adalah orientasi peta yang menempatkan selatan di bagian atas, berbeda dengan peta modern yang menempatkan utara di atas. Orientasi ini umum digunakan dalam tradisi kartografi Islam abad pertengahan.
Al-Idrisi tidak hanya menyalin informasi dari karya klasik seperti Ptolemy, tetapi juga memverifikasi data melalui catatan para pelancong muslim maupun Eropa. Ia mewawancarai para pedagang, pelaut, hingga penjelajah yang datang ke istana Raja Roger. Metode ini menghasilkan gambaran yang lebih akurat dibandingkan peta-peta sezamannya. Bahkan, ia memperkirakan keliling bumi sekitar 36.800 km, hanya meleset sekitar 10 persen dari ukuran sebenarnya, capaian luar biasa pada abad ke-12.
Selain peta, buku Nuzhat al-mushtāq juga berisi deskripsi detail tentang kondisi sosial, budaya, dan ekonomi berbagai wilayah. Dengan demikian, karyanya berfungsi sebagai ensiklopedia geografis, etnografis, sekaligus catatan perjalanan.
Peninggalan Terbesar Umat Manusia
Peta karya Al-Idrisi menjadi rujukan utama selama lebih dari tiga abad. Meski awalnya lebih berpengaruh di dunia Islam, naskahnya kemudian diterjemahkan ke bahasa Latin dan Prancis sehingga dikenal juga di Eropa. Warisan Al-Idrisi membuktikan bahwa kartografi bukan hanya seni menggambar peta, melainkan disiplin ilmiah yang melibatkan verifikasi data, pengamatan, dan analisis kritis. Ia berhasil menjadi jembatan antara pengetahuan geografis klasik dan kebutuhan praktis masyarakat abad pertengahan.
Kehadiran Al-Idrisi dalam sejarah geospasial dunia menegaskan bahwa peta adalah cerminan pengetahuan dan cara pandang manusia terhadap dunia. Ia bukan hanya mencatat garis pantai atau pegunungan, tetapi juga menggabungkan narasi perdagangan, kebudayaan, dan peradaban.
Dengan Nuzhat al-mushtāq, Al-Idrisi membangun sebuah warisan yang mengajarkan pada kita bahwa memahami dunia berarti menyatukan data, pengalaman, dan perspektif manusia. Hingga kini, karya Al-Idrisi tetap menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan tidak mengenal batas agama, bangsa, atau wilayah, melainkan merupakan upaya bersama untuk memahami bumi tempat kita berpijak.
Baca juga: Piri Reis: Peta Kuno yang Dianggap Anomali dalam Dunia Kartografi