Jauh sebelum ada GPS, peta digital, atau satelit, manusia prasejarah sudah punya caranya sendiri untuk menemukan arah dan bergerak di dunia. Mereka hidup di alam yang luas dan penuh tantangan: hutan lebat, padang rumput yang tak berujung, sungai berliku, dan pegunungan curam. Setiap langkah bisa menentukan hidup atau mati sehingga kemampuan untuk tahu arah, jarak, dan lokasi sumber daya sangat penting. Pertanyaannya, bagaimana manusia purba bisa menavigasi wilayah luas tanpa teknologi modern?
- Navigasi dengan Alam
Manusia purba menggunakan alam sebagai “peta hidup” mereka. Matahari, bulan, dan bintang menjadi penunjuk arah utama. Misalnya, posisi matahari terbit dan terbenam membantu mereka menentukan timur dan barat, sedangkan bayangan di siang hari membantu memperkirakan arah. Di malam hari, pola bintang, seperti Polaris di utara atau Southern Cross di selatan, menjadi panduan. Mereka juga memperhatikan arah angin, arus sungai, atau bentuk bukit dan gunung sebagai penunjuk lokasi. Jadi, navigasi mereka tidak cuma soal “di mana”, tetapi juga “kapan”, karena alam berubah seiring waktu.
- Peta Musiman
Selain melihat posisi matahari dan bintang, manusia prasejarah juga membaca tanda-tanda alam yang muncul musiman. Misalnya, lubang air yang hanya muncul saat hujan atau bunga yang mekar di waktu tertentu. Mereka memperhatikan migrasi hewan, arus sungai, dan arah angin untuk menandai wilayah. Dengan begitu, mereka punya semacam “peta musiman” yang membantu mereka dalam mencari makanan, air, dan tempat aman, sekaligus mengingat kapan lokasi itu bisa diakses.
- Menggunakan Lagu
Tidak semua navigasi bersifat visual. Contohnya adalah “songlines” atau jalur impian milik suku Aborigin di Australia. Mereka membuat lagu panjang yang menceritakan perjalanan, setiap bait atau melodi menunjukkan penanda alam, seperti batu, pohon, atau sumur. Dengan menyanyikan lagu tersebut secara urut, suku Aborigin bisa menavigasi gurun yang tampak sama dari jauh. Lagu dan ritme jadi alat untuk mengingat rute dan berbagi pengetahuan antargenerasi, meski pada zaman tersebut tulisan masih belum ditemukan.
- Lukisan dan Ukiran Batu
Beberapa artefak manusia purba, seperti lukisan gua atau ukiran batu, juga berfungsi sebagai peta. Contohnya, di Abauntz, Spanyol, ada ukiran batu dari tahun sekitar 13.660 SM yang diyakini menunjukkan sungai, gunung, dan jalur perjalanan di sekitar gua. Dengan petroglif ini, kelompok pemburu-pengumpul bisa merencanakan rute berburu atau mencari makanan. Meskipun tidak setepat peta modern, ini adalah cara efektif untuk memahami wilayah sekitar.
