Upaya Indonesia memperkuat kemandirian di bidang antariksa memasuki babak baru seiring dimulainya tahap pengembangan spaceport atau bandara antariksa nasional di Pulau Biak, Papua. Di tengah meningkatnya kompetisi global dalam industri peluncuran satelit dan roket, keberadaan fasilitas peluncuran dalam negeri tidak lagi sekadar simbol kemajuan teknologi, melainkan kebutuhan strategis.
Dalam upaya tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat sinergi lintas sektor untuk mempercepat realisasi proyek ini. Penyelarasan kebijakan dan regulasi dilakukan bersama kementerian terkait, pemerintah daerah, unsur pertahanan dan keamanan, industri, serta perguruan tinggi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa spaceport tidak dipandang sebagai proyek infrastruktur tunggal, melainkan simpul aktivitas strategis yang memerlukan integrasi perencanaan wilayah, keamanan, dan pengembangan ekonomi berbasis ruang.
Pemilihan Pulau Biak sebagai lokasi spaceport didasarkan pada pertimbangan geospasial yang kuat. Kedekatannya dengan garis khatulistiwa memberikan keuntungan rotasi bumi yang memungkinkan peluncuran roket menuju orbit rendah dengan konsumsi bahan bakar yang lebih efisien. Selain itu, orientasi wilayah Biak yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik menciptakan koridor peluncuran yang relatif aman karena meminimalkan risiko jatuhnya puing ke kawasan berpenduduk. Faktor-faktor ini menjadikan Biak sebagai salah satu lokasi paling strategis di kawasan Asia-Pasifik untuk aktivitas peluncuran antariksa.
BRIN menargetkan pembangunan fisik spaceport dapat dimulai pada 2026, seiring dengan finalisasi regulasi pemerintah terkait operasional fasilitas peluncuran. Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan bahwa kepastian regulasi menjadi fondasi utama agar pembangunan berjalan selaras dengan standar keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan wilayah. Dalam konteks geospasial, regulasi ini penting untuk memastikan kesesuaian tata ruang, pengendalian dampak lingkungan, serta integrasi dengan infrastruktur regional.
Spaceport Biak juga diusulkan sebagai Proyek Strategis Nasional dalam rencana pembangunan jangka menengah dan panjang. Dari perspektif ekonomi keruangan, proyek ini diproyeksikan memunculkan efek berganda melalui penciptaan lapangan kerja, tumbuhnya industri pendukung, serta peningkatan konektivitas Indonesia dalam ekonomi antariksa global. BRIN melihat potensi kontribusi signifikan terhadap ekonomi antariksa dunia sekaligus penguatan daya saing Indonesia di industri peluncuran roket komersial.
Menurut laporan Seasia News, di tingkat internasional, Indonesia menjalin kerja sama dengan Roscosmos State Space Corporation melalui kemitraan yang melibatkan BRIN, Glavkosmos, dan PT Uniresources Petroleum Indonesia. Spaceport ini dirancang untuk melayani kebutuhan komersial, baik bagi entitas publik maupun swasta, sehingga membuka peluang integrasi Indonesia dalam jaringan peluncuran global. Kolaborasi ini menuntut tata kelola ruang yang adaptif agar kepentingan nasional tetap terjaga.
Pembangunan spaceport di Biak sekaligus menjadi pemenuhan mandat Undang-Undang Keantariksaan 2013 yang mewajibkan negara membangun dan mengoperasikan fasilitas peluncuran domestik. Kajian awal sebenarnya telah dimulai sejak 1985 oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dengan penetapan lokasi seluas 100 hektare di Kampung Saukobye, Biak Numfor. Kini, melalui pendekatan analisis geospasial yang lebih matang dan terintegrasi, proyek yang lama tertunda ini diarahkan menjadi pijakan strategis Indonesia menuju kemandirian antariksa.
