Transformasi digital mulai merambah sektor perkebunan secara lebih serius. Di tengah meningkatnya kebutuhan pemantauan lahan yang cepat, akurat, dan efisien, teknologi kecerdasan buatan (AI) kini menjadi ujung tombak. Dalam gelaran Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2025 di Bali, PT Dabeeo Artificial Intelligence Indonesia memperkenalkan pendekatan baru dalam pemetaan geospasial yang dirancang untuk memodernisasi pengelolaan kebun kelapa sawit.
Perusahaan asal Korea Selatan itu menilai pemanfaatan citra satelit beresolusi tinggi dan algoritma AI mampu mempercepat analisis lahan tanpa mengganggu aktivitas pekerja di lapangan. Dilansir dari Sawit Indonesia, Head of Business Development Dabeeo Indonesia, Rizky Dantri, menyampaikan bahwa teknologi mereka dirancang untuk menghitung jumlah pokok, luasan areal, hingga membaca kesehatan tanaman secara otomatis.
“Kami bekerja sama dengan dua perusahaan satelit global, Airbus dan Maxar, yang saat ini memiliki resolusi terbaik di dunia, yaitu 30 cm. Dari data tersebut, kami masih bisa meningkatkan kualitasnya sehingga mendekati hasil drone,” ujarnya di sela pameran IPOC, Kamis, 20 November 2025.
Kecepatan menjadi nilai tambah yang sangat penting. Dengan pemrosesan data berbasis AI, perusahaan perkebunan dapat mempercepat proses pengambilan keputusan, baik untuk pengelolaan blok maupun perencanaan pembukaan areal baru. Pemetaan berbasis satelit juga memberikan keunggulan dibanding drone yang membutuhkan akses khusus dan waktu olah data yang lebih panjang.
“Kami melakukan analisis dua kali setahun. Hasilnya memungkinkan perusahaan untuk melihat perubahan sampai tingkat per pokok,” jelas Rizky.
Keunggulan Dabeeo AI
Kecepatan itu dimungkinkan karena Dabeeo memiliki akses langsung ke data Airbus dan Maxar sehingga pemetaan dapat dilakukan lebih cepat daripada penyedia yang tidak menjalin perjanjian langsung dengan operator satelit tersebut. Selain analisis di pusat data, Dabeeo juga memikirkan kondisi pekerja lapangan. Untuk itu, mereka menyediakan aplikasi mobile yang dapat digunakan tanpa jaringan internet. Hal tersebut menjadi fitur penting di lokasi perkebunan yang sering kali minim sinyal.
“Pengguna bisa melakukan navigasi, membuat laporan, dan membuka data analisis tanpa sinyal. Begitu keluar dari area kebun, seluruh data bisa diunggah ke sistem,” ujar Rizky. Aplikasi ini dirancang ringan agar tetap optimal di ponsel kelas menengah yang banyak digunakan oleh pekerja lapangan.
Teknologi yang Digunakan
Lebih dari sekadar pemetaan dasar, sistem Dabeeo bertujuan menjadi ekosistem analisis komprehensif. Dengan citra satelit beresolusi tinggi dan algoritma geospasial, perusahaan dapat mendeteksi perubahan vegetasi, memantau kesehatan tanaman, hingga mengidentifikasi potensi ancaman secara real time. Berdasarkan laporan Indobot Academy, automasi pemetaan dan analisis menjadi kunci dalam membaca pola pertumbuhan, area yang mengalami deforestasi, hingga persebaran hama dan penyakit.
Pendekatan ini mengurangi ketergantungan pada inspeksi manual yang memakan waktu dan biaya. Integrasi AI juga memberi visibilitas menyeluruh terhadap kondisi areal tanpa perlu menurunkan tim langsung ke lapangan. Efisiensi operasional meningkat, sementara tata kelola kebun menjadi lebih presisi.
Dabeeo menempatkan teknologi ini sebagai bagian dari upaya memperkuat transparansi rantai pasok industri sawit. Data yang akurat dan mutakhir memungkinkan perusahaan menunjukkan praktik budi daya yang lebih ramah lingkungan dan selaras dengan standar keberlanjutan global. Dengan kata lain, solusi AI ini bukan hanya alat teknis, melainkan juga strategi bisnis.
Pemanfaatan AI dalam monitoring perkebunan sawit dipandang mampu menjawab tantangan jangka panjang: peningkatan produktivitas, penurunan risiko kerugian, dan perencanaan produksi yang lebih presisi. Dengan sistem yang mampu membaca kondisi lapangan secara real time dan memberikan peringatan dini terhadap gangguan lingkungan, sektor perkebunan kini memiliki peluang untuk bergerak lebih cepat dan lebih efisien dari sebelumnya.