Pemanfaatan teknologi drone menjadi kunci penting dalam operasi pencarian dan penyelamatan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang hilang kontak di kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Tim SAR gabungan mengandalkan pendekatan berbasis analisis geospasial untuk memahami karakter wilayah pencarian yang didominasi pegunungan karst terjal, jurang curam, serta akses darat yang sangat terbatas. Kondisi geografis tersebut membuat asesmen visual dari udara menjadi langkah paling rasional guna meminimalkan risiko terhadap personel sekaligus mempercepat identifikasi awal lokasi pesawat.
Diketahui sebelumnya, pesawat dengan nomor seri 611 tersebut melakukan penerbangan dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar dengan Pilot in Command Kapten Andy Dahananto. Berdasarkan kronologi awal, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan semestinya dan telah diarahkan untuk koreksi posisi. Setelah instruksi terakhir disampaikan, komunikasi terputus dan ATC Makassar mendeklarasikan fase darurat DETRESFA sesuai prosedur keselamatan penerbangan.
Operasi pencarian dimulai dengan menerbangkam drone di area puncak Gunung Bulusaraung untuk merekam citra udara beresolusi tinggi yang mampu menggambarkan kemiringan lereng, kedalaman jurang, serta potensi jalur aman bagi pergerakan tim darat. Dilansir dari tirto.id, Kepala Bidang Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, menyampaikan bahwa data visual udara digunakan sebagai dasar asesmen kondisi di bawah puncak sebelum diputuskan metode evakuasi yang paling memungkinkan. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan teknis di lapangan tidak lagi hanya bergantung pada observasi langsung, tetapi juga pada interpretasi data spasial yang akurat dan terukur.
Informasi dari drone kemudian dianalisis untuk menentukan apakah evakuasi dapat dilakukan dengan teknik rappelling atau memerlukan jalur alternatif yang lebih aman. Pendekatan ini memungkinkan pemetaan risiko secara lebih detail, termasuk potensi longsoran batu karst dan keterbatasan ruang manuver di sekitar lokasi yang dicurigai sebagai titik jatuh pesawat. Sementara itu, operasi darat melibatkan 476 personel gabungan dari TNI, Polri, pemerintah daerah, Basarnas, instansi terkait, serta SAR mahasiswa, yang dibagi ke dalam lima sektor pencarian guna mengoptimalkan cakupan wilayah secara spasial.
Untuk mendukung koordinasi di medan ekstrem, sistem komunikasi diperkuat dengan pemasangan repeater HT serta dukungan Starlink portabel sebagai cadangan. Langkah ini memastikan aliran informasi antarsektor tetap terjaga meskipun terhalang kontur pegunungan. Perkembangan signifikan tercatat pada pagi hari ketika penyisiran udara mendeteksi serpihan pesawat di sekitar Bukit Bulusaraung, yang kemudian dikonfirmasi oleh temuan serpihan besar oleh tim darat. Pada pukul 08.09 WITA, badan pesawat berhasil ditemukan dan dilakukan identifikasi awal.
Meski demikian, analisis kondisi meteorologis menunjukkan kecepatan angin mencapai 20–22 knot sehingga evakuasi udara belum dapat dilakukan. Helikopter masih mencari titik terdekat dan paling aman untuk menurunkan tim SAR ke lokasi badan pesawat.
Secara keseluruhan, operasi penyelamatan ini menunjukkan bagaimana integrasi drone dan analisis geospasial menjadi fondasi penting dalam identifikasi awal dan perencanaan evakuasi di wilayah dengan kompleksitas geografis tinggi. Pengambilan keputusan tidak hanya berdasarkan perkiraan, tetapi juga data spasial yang konkret.