Perubahan iklim yang kian terasa dampaknya telah mendorong sektor pertanian untuk bergerak menuju sistem yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Di tengah tekanan tersebut, transformasi berbasis teknologi hijau tidak lagi menjadi sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak. Bagi negara seperti Indonesia yang memiliki keragaman geografis tinggi, pendekatan ini menjadi makin penting karena setiap wilayah menyimpan tantangan sekaligus potensi yang berbeda. Oleh karena itu, inovasi pertanian tidak dapat diterapkan secara seragam, melainkan harus disesuaikan dengan karakteristik ruang agar mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.
Untuk menyikapi hal tersebut, Wakil Kepala (Waka) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amarulla Octavian menyatakan bahwa evaluasi terhadap penerapan teknologi baru dalam sistem pertanian global menjadi langkah krusial dalam menghadapi perubahan iklim. Dalam acara International Strategic Meeting on Scientific Pathways for Sustainable Livestock Industry Transformation di Jakarta, ia menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi tidak bersifat homogen, melainkan dipengaruhi oleh kondisi geospasial, seperti jenis tanah, curah hujan, hingga pola penggunaan lahan. Dengan demikian, adaptasi teknologi pertanian hijau harus mempertimbangkan variasi spasial agar penerapannya lebih efektif dan tepat sasaran, khususnya di wilayah tropis dengan tingkat keragaman ekosistem yang tinggi, seperti Indonesia.
