Hutan Kalimantan merupakan salah satu ekosistem tropis terpenting di dunia yang terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Kawasan ini tidak pernah benar-benar statis. Tutupan vegetasi, pola aliran sungai, hingga pergerakan satwa liar terus berubah secara dinamis, sementara tekanan dari aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan, kebakaran hutan, dan ekspansi perkebunan, makin mempercepat perubahan bentang alam.
Untuk menanggapi hal tersebut, Pemerhati lingkungan Chanee Kalaweit menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam menjaga hutan bukan hanya soal perlindungan fisik kawasan, tetapi juga memahami secara menyeluruh apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya. Menurutnya, tanpa data yang akurat mengenai perubahan spasial dan aktivitas ekosistem, upaya konservasi akan sulit berjalan secara efektif.
Melalui video pendek berjudul When Technology Helps Conservation yang diunggah melalui akun X miliknya, Chanee mendorong pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai bagian dari solusi modern untuk konservasi hutan Kalimantan. Ia menilai teknologi mampu membantu para peneliti dan pemerintah membaca dinamika kawasan hutan secara lebih cepat dan presisi.
Pengalaman yang ia lihat dari proyek konservasi di Guangxi Chongzuo National Natural Reserve, Tiongkok menjadi contoh nyata bagaimana AI dapat diterapkan dalam perlindungan lingkungan. Di kawasan tersebut, sistem AI yang mendapatkan dukungan dari Huawei digunakan untuk memantau salah satu primata paling langka di dunia, yaitu langur kepala-putih, yang jumlah populasinya hanya sekitar 1.400 individu. Melalui integrasi kamera, sensor lapangan, dan analisis citra, teknologi ini mampu secara otomatis mengidentifikasi aktivitas satwa, memetakan habitat inti, serta mendeteksi area yang mengalami gangguan.
Pendekatan serupa dinilai sangat relevan untuk diterapkan di Kalimantan, terutama dalam memantau habitat orangutan, bekantan, dan berbagai satwa endemik lainnya. AI dapat diintegrasikan dengan data citra satelit, drone, dan sensor lingkungan untuk memetakan perubahan tutupan lahan secara real time. Teknologi ini memungkinkan pemantauan titik rawan deforestasi, jalur migrasi satwa, hingga potensi kebakaran hutan berdasarkan pola hotspot, suhu permukaan, dan kelembapan lahan. Chanee menyatakan bahwa kombinasi antara data yang lebih baik, gangguan yang lebih minim, dan proses penyelamatan yang lebih efisien menjadi formula ideal dalam konservasi modern.
Ia juga menilai keberhasilan penerapan teknologi digital di Buhua, Tiongkok, yang didukung konektivitas dan jaringan 5G, seharusnya menjadi dorongan bagi pemerintah Indonesia untuk menerapkan pendekatan serupa di Kalimantan. Menurut Chanee, ketika masyarakat dan teknologi dapat berjalan beriringan, alam memiliki peluang lebih besar untuk bertahan. Dengan dukungan infrastruktur digital dan sistem pemetaan geospasial berbasis AI, upaya konservasi hutan Kalimantan dapat dilakukan secara lebih preventif, presisi, dan berkelanjutan sehingga perlindungan salah satu paru-paru dunia ini dapat makin diperkuat di masa depan.
