Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memperkuat transformasi digital di sektor maritim melalui pengembangan Desain Sistem Infrastruktur Ocean Big Data, sebuah inisiatif strategis yang menggabungkan teknologi geospasial, pengindraan jauh, dan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan tata kelola kelautan yang berbasis data dan sains, selaras dengan prinsip command, control, communications, computers, intelligence, surveillance, and reconnaissance (C4ISR).
Integrasi Geospasial dalam Infrastruktur Laut
Ocean Big Data dirancang sebagai sistem terpadu yang mengumpulkan, memproses, dan menganalisis data kelautan secara masif, akurat, dan waktu nyata (real time). Teknologi geospasial menjadi tulang punggung sistem ini, menghubungkan berbagai sumber data dari udara, permukaan laut, hingga bawah laut.
Berikut beberapa komponen utamanya:
-
Pengindraan jauh: Penggunaan satelit maritim, satelit ikan, dan jaringan satelit Inmarsat untuk memperoleh citra spasial dan data broadband kelautan.
-
Pengawasan laut: Didukung oleh sistem RADAR, UAV/drone, dan drone laut yang merekam data LiDAR, topografi pantai, serta pergerakan kapal secara langsung.
-
Akuisisi bawah laut: Memanfaatkan teknologi sonar untuk memetakan morfologi dasar laut, sebaran populasi ikan, sedimen, serta kualitas air.
Melalui integrasi ini, KKP mampu memproduksi peta kelautan digital dinamis yang dapat diperbarui secara berkala dan menjadi basis utama bagi analisis spasial dan peramalan laut (ocean forecasting).
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa teknologi geospasial dan big data merupakan kunci menuju tata kelola laut yang lebih presisi dan adaptif. “Dengan Ocean Big Data, Indonesia akan memiliki sistem yang mampu membaca laut secara real time,” ujarnya dalam acara Kuliah Umum “Transformasi Tata Kelola Maritim: Dari Tantangan ke Peluang Masa Depan” di Fakultas Hukum UGM, Jumat, 7 November 2025.
