Para arkeolog di Meksiko kembali membuka jendela menuju cara manusia purba memahami alam semesta. Di sebuah situs Maya kuno yang telah lama tertimbun waktu, mereka menemukan struktur berusia lebih dari 3.000 tahun yang diduga menjadi salah satu peta kosmos tertua yang pernah dibuat di benua Amerika. Temuan ini memperlihatkan betapa canggihnya pengetahuan astronomi yang telah mereka miliki jauh sebelum teleskop ditemukan.
Berjarak 850 mil dari Mexico City, para peneliti mendapati sebuah platform batu besar yang tata letaknya menunjukkan hubungan erat antara observasi langit dan praktik ritual masyarakat Maya awal. Pola orientasinya mengarah pada titik-titik astronomis penting yang menandai perubahan musim, pergerakan Matahari, hingga siklus agrikultur yang menentukan kehidupan mereka.
Menurut laporan para arkeolog, susunan struktur itu bukan sekadar fondasi bangunan. Ia berfungsi sebagai representasi kosmos, semacam diagram alam semesta yang menggambarkan hubungan antara dunia manusia, dunia para dewa, dan pergerakan benda-benda langit. Platform tersebut diperkirakan digunakan untuk melakukan observasi Matahari pada titik balik (solstis) serta ekuinoks, yang membantu menentukan kalender ritual dan kegiatan pertanian.
Riset yang dipublikasikan oleh tim gabungan dari University of Arizona dan Instituto Nacional de Antropología e Historia Meksiko menekankan bahwa temuan ini menambah bukti bahwa masyarakat Maya awal memiliki sistem astronomi yang terstruktur. Mereka tidak hanya mengamati langit, mereka membangun ruang fisik untuk menafsirkannya. Struktur semacam ini juga memperlihatkan bagaimana peradaban Maya mengintegrasikan ilmu, kepercayaan, dan kehidupan sehari-hari dalam satu kesatuan yang harmonis.
Berkat LiDAR
Awalnya, struktur yang disebut Aguada Fenix ini sulit dikenali di permukaan karena bentuknya datar dan tersembunyi di tengah vegetasi. Baru ketika para arkeolog menggunakan teknologi LiDAR, terungkap sebuah platform buatan manusia dengan skala luar biasa. Data penanggalan radiokarbon menunjukkan bahwa konstruksi dimulai antara sekitar 1050 SM hingga 800 SM.
Struktur utama Aguada Fenix memiliki orientasi sumbu utara-selatan dan timur-barat yang sangat terencana, membentuk pola silang yang mencerminkan konsep kosmik. Dalam lubang (pit) berbentuk salib di pusatnya, para peneliti menemukan pigmen warna, di antaranya biru (azurit) di utara, hijau (malakit) di timur, dan kuning (oker) di selatan.
Warna-warna ini tentu tidak sembarangan. Dalam tradisi Mesoamerika, setiap arah mata angin memiliki asosiasi warna tertentu. Selain itu, situs ini dilengkapi kanal-kanal dan koridor yang terhubung dengan lubang salib pusat, membangun sebuah lanskap geometris yang sangat terstruktur. Beberapa kanal mencapai lebar 35 meter dan kedalaman 5 meter, dan diperkirakan sempat direncanakan sebagai sistem hidrolik ritual.
Menariknya, Aguada Fenix tampaknya bukan permukiman biasa. Peneliti tidak menemukan bukti adanya istana bangsawan, makam elit, atau simbol kekuasaan lain yang khas di kota-kota Maya klasik. Sebaliknya, temuan arkeolog, seperti patung batu giok yang menggambarkan buaya, burung, bahkan wanita dalam posisi melahirkan, menunjukkan fokus pada kehidupan sehari-hari dan makna komunitas.
Konstruksinya sendiri diperkirakan melibatkan ribuan orang, tetapi bukan melalui kerja paksa. Para peneliti meyakini bahwa proyek ini dilakukan secara kolektif dan sukarela, tanpa struktur hierarki yang kuat. Menurut arkeolog Takeshi Inomata, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Maya awal bisa bergotong-royong untuk mewujudkan visi kosmik bersama, tanpa campur tangan penguasa keras.
Dengan membangun sebuah cosmogram dalam skala lanskap, masyarakat kuno di Aguada Fenix tidak hanya menciptakan tempat ritual, tetapi juga menanamkan pemahaman kolektif tentang alam semesta ke dalam tanah. Mereka “menggambarkan langit” ke bumi dalam bentuk geometri dan warna.
Temuan ini menantang gagasan lama bahwa monumen besar hanya bisa dibangun oleh masyarakat dengan hierarki sosial yang ketat. Sebaliknya, Aguada Fenix menunjukkan bahwa kolaborasi sosial bisa terjadi secara egaliter.