Dua belas hari setelah banjir bandang dan longsor meluluhlantakkan sejumlah wilayah di Aceh dan sebagian Sumatera, tim GeoSquare bergerak cepat menyusun analisis geospasial berbasis citra satelit resolusi tinggi. Meski baru berusia dua tahun dan baru pertama kali terlibat dalam respons darurat bencana, perusahaan rintisan itu mencoba menutup keterbatasan jaringan lapangan dengan kapabilitas teknologi yang dimilikinya.
“Kami itu baru sekali ya, perusahaan yang sangat baru, tapi untuk jaringan untuk teknologi dan juga kapabilitas teknologi, sebetulnya kami sudah lumayan sekali. Jadi di akhir nanti, kami akan menawarkan ke rekan-rekan yang ada di lapangan untuk melakukan analisis geospasial yang besar, nanti kami akan bisa bantu,” ujar Azza Sawungrana, Head of Data GeoSquare.ai dalam acara Webinar Tanggap Bencana yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Teknik Geodesi (KATDESI) Universitas Gadjah Mada pada Senin, 8 Desember 2025.
Analisis utama difokuskan di Aceh Tengah, termasuk Bener Meriah dan Gayo Lues. Daerah-daerah di dataran tinggi itu sulit dijangkau. Kondisi geografis Sumatera yang masif menurutnya sering tak sepenuhnya dipahami masyarakat di Jawa.
“Sense of scale-nya itu hilang dari orang Jawa. Ini beda sekali dengan Sumatera karena skalanya sangat besar,” ujarnya. Kabupaten-kabupaten di tengah Sumatera menurut Azza mirip dengan kondisi geografis Bandung yang berupa dataran tinggi berlapis lembah dan punggungan curam.
Azza mengatakan bahwa Kecamatan Bintang di Aceh Tengah menjadi contoh paling nyata. “Kecamatan Bintang ini salah satu kecamatan terbesar di Aceh Tengah, tapi bisa tersapu oleh banjir dan juga longsor besar ini,” katanya. Berdasarkan analisis citra, kawasan itu berada di kipas aluvial yang memang rawan diterjang aliran banjir.
Azza kemudian mengidentifikasi desa-desa lain yang menempati formasi serupa, dan hasilnya dibagikan secara terbuka. Di lapangan, sejumlah jembatan di Bener Meriah dan Takengon terputus total. Dalam kesempatan itu, Azza menekankan pentingnya solidaritas publik. “Saya juga harus sangat mengapresiasi dengan tindakan KATDESI yang sangat cepat dan terkumpul uang sebesar itu oleh orang sebanyak itu. Hal itu bisa jadi langkah awal untuk mengorkestrasi bantuan geospasial,” ujarnya.
Dalam paparan Azza, GeoSquare memadukan tiga sumber utama, yaitu Sentinel-1, Sentinel-2, dan PlanetScope. Sentinel-1 yang berbasis radar membantu menembus awan tebal, sementara Sentinel-2 memberikan citra optik sebelum dan sesudah kejadian. PlanetScope berkualitas 3 meter kemudian melengkapi detail kerusakan.
“Kami improve lagi ketika kami mendapatkan citra dari Planet yang 3 meter itu, dan bisa sangat terlihat beberapa putusnya tempat di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara,” jelasnya.
Dengan menggabungkan data DEM, OpenStreetMap, dan mesin analisis data internal, seperti routing dan isochrone, GeoSquare mengekstraksi desa prioritas, rute alternatif, hingga zona aman.
Webinar Tanggap Bencana bertajuk “Respons Cepat Teknologi Geospasial untuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat” diselenggarakan oleh KATDESI berkolaborasi dengan GEO-AIT dan GeoSquare.ai. Acara yang digelar daring ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Ruli Andaru dari GEO-AIT dan Azza Sawungrana dari GeoSquare.ai, serta dimoderatori oleh Arie Yulfa, Dosen Universitas Negeri Padang.