Di tengah situasi darurat akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, kecepatan dan ketepatan penyaluran bantuan menjadi penentu utama keselamatan warga terdampak. Kondisi geografis yang luas, akses yang tidak merata, serta keterbatasan informasi lapangan kerap membuat bantuan tidak optimal. Berangkat dari realitas tersebut, Ferry Irwandi bersama Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI), tim relawan, dan Kitabisa.com mengambil pendekatan berbasis analisis geospasial untuk memetakan wilayah terdampak banjir sebagai dasar penyaluran bantuan medis secara lebih terarah.
Dilansir dari video yang diunggah di akun TikTok milik Ferry Irwandi, pendekatan ini diawali dengan pemetaan spasial wilayah terdampak untuk memahami sebaran banjir, kepadatan penduduk, serta akses logistik yang tersedia. Pada pembahasan tersebut, tim relawan memposisikan Medan sebagai simpul utama keberangkatan bantuan, lalu dianalisis durasi tempuh menuju daerah seperti Kuala Simpang dan wilayah sekitarnya. Dengan membaca peta jarak dan kondisi lapangan, tim dapat menentukan jalur distribusi paling efisien sekaligus memprediksi hambatan yang mungkin terjadi akibat kerusakan infrastruktur pascabanjir.
Analisis pemetaan bantuan tersebut kemudian difokuskan pada pemetaan fasilitas kesehatan yang masih berfungsi. Beberapa puskesmas di Kuala Simpang, Rantau, dan Sekerak teridentifikasi sudah kembali aktif dan bisa dijadikan titik layanan awal. Namun, pemetaan juga menunjukkan adanya wilayah dengan populasi besar yang belum terjangkau layanan medis secara optimal. Salah satunya adalah Tamiang Hulu dengan puluhan ribu penduduk. Berdasarkan analisis tersebut, diputuskan untuk mengaktifkan puskesmas Tamiang Hulu sebagai posko medis baru agar cakupan layanan kesehatan dapat menjangkau wilayah yang lebih luas, termasuk daerah sekitar, seperti Bandar Pusaka, hingga akses dari Gayo Lues.
Selain fasilitas kesehatan, analisis spasial turut mengaitkan data populasi dengan kebutuhan logistik. Dengan menghitung jumlah warga terdampak dan kapasitas ideal satu posko, tim dapat memperkirakan kebutuhan posko medis di tingkat kabupaten. Pendekatan ini mencegah ketimpangan distribusi bantuan sehingga tidak ada wilayah yang kelebihan bantuan sementara wilayah lain justru kekurangan.
Pemetaan juga mencakup kebutuhan infrastruktur penunjang, seperti ambulans, ketersediaan air bersih melalui sumur bor, serta pemanfaatan panel surya untuk menjamin pasokan listrik. Penempatan sarana tersebut ditentukan berdasarkan lokasi paling strategis agar dapat mendukung evakuasi pasien dan operasional posko secara berkelanjutan. Aspek kenyamanan tenaga medis ikut diperhitungkan, mengingat keberlangsungan layanan kesehatan sangat bergantung pada kondisi fisik dan psikologis para relawan.
Meski terlihat sederhana, langkah Ferry Irwandi dan tim relawan ini mencerminkan praktik paling efektif dalam fase early post-disaster. Dengan analisis geospasial sebagai dasar pengambilan keputusan, bantuan medis dapat disalurkan lebih tepat sasaran, cepat, dan berkelanjuta. Hal ini berperan penting dalam menekan resiko bertambahnya korban jiwa pascabanjir.
Dengan pendekatan berbasis peta dan data lapangan, upaya yang dilakukan Ferry Irwandi dan para relawan menunjukkan bahwa respons kemanusiaan tidak lagi sekadar soal kecepatan, tetapi juga ketepatan. Analisis geospasial memungkinkan setiap keputusan, mulai dari penentuan lokasi posko hingga distribusi tenaga medis, diambil secara terukur dan berorientasi pada kebutuhan nyata warga terdampak. Di tengah ketidakpastian pascabanjir, strategi ini menjadi penyangga penting agar bantuan benar-benar hadir di titik yang paling membutuhkan, sekaligus memperkuat kesiapan komunitas dalam menghadapi fase pemulihan yang masih panjang.