Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Lingkungan Dua Puluh Ton Pestisida Bakar Cemari 22,5 Km Sunga...
Lingkungan

Dua Puluh Ton Pestisida Bakar Cemari 22,5 Km Sungai Cisadane, Biota Air Mati Massal

Dua Puluh Ton Pestisida Bakar Cemari 22,5 Km Sungai Cisadane, Biota Air Mati Massal

Sungai Cisadane mengalami pencemaran hebat menyusul insiden kebakaran gudang pestisida milik PT Biotek Saranatama di Kawasan Pergudangan Taman Tekno BSD Serpong, Blok K3 Nomor 37, Tangerang Selatan. Sebanyak 20 ton bahan kimia berbahaya dilaporkan hanyut terbawa air sisa pemadaman hingga mencemari aliran sungai sepanjang 22,5 kilometer yang melintasi wilayah Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang.

Kementerian Lingkungan Hidup atau Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) segera menerjunkan tim Gakkum untuk melakukan investigasi lapangan. Berdasarkan temuan awal, residu pestisida jenis cypermetrin dan profenofos mengalir deras dari Sungai Jeletreng menuju badan Sungai Cisadane.

"Pencemaran di Sungai Cisadane dilaporkan telah meluas hingga kurang lebih 22,5 kilometer," kata Menteri LH/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA.

Dampak Ekosistem

Pencemaran ini memicu kerusakan ekosistem yang fatal. Ribuan biota akuatik ditemukan mati mengambang di sepanjang aliran sungai yang terdampak. Jenis ikan yang teridentifikasi mati meliputi ikan mas, baung, patin, nila, hingga ikan sapu-sapu yang dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap polusi.

"Kurang lebih 20 ton pestisida terbakar dan air sisa pemadaman yang bercampur residu kimia mengalir hingga mencemari sungai. Kondisi ini sangat berdampak serius terhadap ekosistem perairan dan masyarakat di sekitarnya," ucap Menteri Hanif.

Guna memastikan tingkat toksisitas, otoritas terkait telah mengambil langkah darurat di titik-titik krusial aliran sungai. "Sebagai tindak lanjut, KLH/BPLH melakukan pengambilan sampel air di bagian hulu dan hilir Sungai Cisadane, serta mengumpulkan sepuluh sampel ikan mati untuk diuji di laboratorium," kata Menteri Hanif.

Investigasi Mendalam dan Uji Toksikologi

KLH/BPLH saat ini sedang melakukan pemeriksaan intensif terhadap gudang PT Biotek Saranatama. Selain pengujian sampel air sungai, tim ahli juga akan memeriksa kualitas air tanah di sekitar lokasi kejadian guna mengantisipasi rembesan polutan.

Kementerian berkomitmen untuk melibatkan ahli toksikologi dalam mengkaji dampak jangka panjang bagi biota perairan dan lingkungan sekitar. Penegakan hukum akan dilakukan secara transparan untuk mengevaluasi sistem pengelolaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di perusahaan tersebut.

"Kami akan mendalami kasus ini melalui serangkaian pengujian laboratorium dan kajian ilmiah," ucap Menteri Hanif menekankan keseriusan penanganan kasus ini.

Mengingat sifat kimia pestisida yang sangat beracun, pemerintah mengeluarkan imbauan keras kepada warga yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Cisadane. Paparan zat kimia ini tidak hanya berbahaya jika tertelan, tetapi juga berisiko melalui kontak fisik dan pernapasan.

"Imbauannya untuk sementara waktu, kami mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai agar tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari, karena berpotensi menyebabkan iritasi kulit dan mata, serta gangguan pernapasan jika uapnya terhirup," kata Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!