Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Infrastruktur Nature-based Solutions Jadi Kunci Mitigasi Gelomba...
Infrastruktur

Nature-based Solutions Jadi Kunci Mitigasi Gelombang Ekstrem dan Tsunami di Bandara YIA

Nature-based Solutions Jadi Kunci Mitigasi Gelombang Ekstrem dan Tsunami di Bandara YIA

Wilayah pesisir selatan Pulau Jawa merupakan kawasan dengan kompleksitas risiko kebencanaan yang tinggi jika ditinjau dari perspektif geospasial. Peningkatan intensitas gelombang laut ekstrem akibat perubahan iklim global berpadu dengan ancaman tsunami yang bersumber dari zona megathrust di selatan Jawa. Dalam lanskap risiko tersebut, Bandara Internasional Yogyakarta (Yogyakarta International Airport—YIA) berdiri sebagai infrastruktur strategis yang memiliki tingkat kerentanan tinggi karena posisinya yang berada langsung di dataran pesisir aktif. Oleh karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan pendekatan mitigasi berbasis nature-based solutions (NbS) yang berorientasi pada keberlanjutan dan keselarasan dengan sistem alam.

Secara geospasial, kawasan bandara YIA terletak di antara Sungai Serang di sisi timur dan Sungai Bogowonto di sisi barat, dengan gumuk pasir yang secara alami berfungsi sebagai pelindung pantai. Namun, perubahan tata ruang pesisir akibat pembangunan struktur pantai, seperti pemecah gelombang dan dermaga, telah memengaruhi keseimbangan sistem pesisir. Analisis spasial menunjukkan terjadinya perubahan pola arus sejajar pantai yang berdampak langsung pada distribusi sedimen. Akibatnya, pasir cenderung menumpuk di satu sisi bangunan pantai dan mengalami defisit di sisi lain, khususnya di sepanjang pesisir selatan bandara.

Ketidakseimbangan sistem transpor sedimen tersebut memicu abrasi dan sedimentasi yang cukup signifikan pada bentang pantai sepanjang sekitar 5,5 kilometer. Kondisi ini tidak hanya mengancam stabilitas garis pantai, tetapi juga melemahkan fungsi gumuk pasir sebagai benteng alami terhadap energi gelombang ekstrem. Jika tidak ditangani secara terpadu, degradasi pesisir berpotensi meningkatkan kerentanan bandara terhadap limpasan gelombang laut dan tsunami.

Sebagai respons, BRIN merancang pendekatan NbS dengan konsep perlindungan berlapis atau multi-layer defense. Pendekatan ini mengombinasikan struktur keras, seperti groin dan tanggul laut, dengan elemen alami yang disusun secara spasial dari zona laut hingga daratan. Groin ditempatkan menjorok ke laut untuk mengendalikan arus sejajar pantai dan pergerakan sedimen, sedangkan pantai berpasir dan gumuk pasir di darat berperan sebagai peredam awal energi gelombang sebelum mencapai kawasan bandara.

Vegetasi pantai menjadi lapisan penting dalam sistem NbS karena berfungsi sebagai sabuk hijau pesisir. Analisis kesesuaian lahan menunjukkan cemara udang dan pandan laut efektif dalam menahan sedimen, memperlambat aliran air, serta meredam sisa energi gelombang. Pemilihan vegetasi ini juga mempertimbangkan konteks spasial pemanfaatan lahan di selatan bandara yang digunakan untuk pariwisata dan pertanian, sekaligus keamanan bagi operasional bandara. Ke depan, pembangunan tanggul di belakang zona vegetasi dirancang sebagai lapisan perlindungan terakhir yang multifungsi sebagai jalur konektivitas wilayah sehingga mitigasi bencana dapat berjalan seiring dengan pembangunan berkelanjutan kawasan pesisir.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!