Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Infrastruktur Bukan Giant Sea Wall, Peneliti BRIN Ungkap Strateg...
Infrastruktur

Bukan Giant Sea Wall, Peneliti BRIN Ungkap Strategi Jitu Atasi Rob Pantura

Bukan Giant Sea Wall, Peneliti BRIN Ungkap Strategi Jitu Atasi Rob Pantura

Kawasan pesisir Pulau Jawa, khususnya Pantai Utara (Pantura), berada dalam ancaman serius lahan tenggelam yang dipicu oleh perubahan iklim dan penurunan muka tanah. Rencana pembangunan dinding laut raksasa (giant sea wall) dikhawatirkan justru akan mempercepat kerusakan karena beban struktur beton yang terlalu berat bagi tanah pesisir yang kian rapuh.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Ir. Eddy Hermawan, menekankan bahwa pendekatan alami jauh lebih realistis untuk menyelamatkan warga di kawasan pesisir. Ia menilai pembangunan fisik yang masif hanya akan menambah beban tanah yang sudah mengalami penurunan parah.

"Saya akan fokus kepada bagaimana menyelamatkan saudara-saudara kita yang ada di sekitar coastal area, pantai, jangan gunakan giant wall. Karena itu beratnya minta ampun. Dia akan menenggelamkan,” kata Eddy pada Rabu, 4 Februari 2026 dikutip dari SindoNews.

Kembali ke Alam

Sebagai alternatif, Eddy mengusulkan konsep pengembalian fungsi alam melalui sistem main loop dan pemecah gelombang alami. Hutan mangrove dipandang sebagai garda terdepan atau buffer yang mampu meredam energi besar dari laut secara bertahap melalui sistem vegetasi yang berlapis.

"Jadi gimana? Back to natural. Gimana caranya? Bikin main loop dengan lipat-lipat-lipat. Jadi bagaimana ini si gelombang yang begitu besar kita pecahkan itu, supaya habis. Jadi kita pasang mangrove, sebagai buffer itu ya,” ucap Eddy menjelaskan mekanismenya.

Strategi ini dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan struktur beton. Selain fungsi ekologis, vegetasi alami tidak memberikan tekanan beban vertikal tambahan pada lapisan tanah aluvial pesisir yang mudah terkompaksi.

Relokasi Strategis dan Elevasi Hunian

Selain perbaikan ekosistem, keselamatan penduduk tetap menjadi prioritas utama. Eddy mengusulkan langkah relokasi yang terukur bagi warga yang tinggal di zona merah atau terlalu dekat dengan bibir pantai. Penduduk disarankan pindah ke area yang lebih tinggi dengan jarak minimal 500 meter dari pantai guna meminimalkan risiko rob maupun tsunami.

"Kita pindahkan penduduk itu 500 meter, jangan dekat pantai. Ketika mereka dipindahkan, naikkan tinggi mereka. Tempat tinggalnya itu. Sudah jauh dari pantai, kita naikkan,” ungkap Eddy.

Ia menegaskan bahwa memindahkan warga ke lokasi yang lebih aman dan meninggalkan area pesisir yang kritis adalah langkah yang tak terelakkan. "Pindahkan mereka, bikin yang lebih tinggi, insyaallah aman. Itu teknologi tidak buang gede, lebih natural, lebih realistis,” tambahnya.

Eddy memaparkan bahwa ancaman ini tidak bisa dihadapi hanya dengan teknologi beton, mengingat mencairnya es di kutub adalah fenomena global yang tidak bisa dihentikan secara instan. Di sisi lain, aktivitas manusia di daratan, seperti pembangunan hotel yang masif, terutama di wilayah Semarang, telah memperburuk situasi.

Penyedotan air tanah yang berlebihan untuk kebutuhan industri dan akomodasi mengakibatkan penurunan muka tanah yang sangat cepat. Eddy menyebut kondisi ini sudah berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan.

Sinergi antara pemecah gelombang alami, relokasi penduduk ke tempat tinggi, serta penghentian eksploitasi air tanah merupakan kunci keamanan jangka panjang bagi Pantura. Pendekatan ini dinilai jauh lebih efektif dan efisien untuk menjaga kedaulatan lahan di pesisir Jawa.

Baca juga: WALHI Sebut Banjir Rob Pesisir Jawa Karena Salah Urus Tata Ruang

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!