Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home AI Peneliti Manfaatkan AI Ungkap Dampak Buruk 'Sidewa...
AI

Peneliti Manfaatkan AI Ungkap Dampak Buruk 'Sidewalk Sheds' bagi Bisnis dan Pejalan Kaki

Peneliti Manfaatkan AI Ungkap Dampak Buruk 'Sidewalk Sheds' bagi Bisnis dan Pejalan Kaki

Kota New York identik dengan gedung pencakar langit. Namun, di permukaan tanah, pemandangan kota justru didominasi oleh ribuan ton besi perancah atau sidewalk sheds. Struktur pelindung ini memang krusial bagi keselamatan selama proses konstruksi, tetapi kehadirannya yang masif kini terbukti secara ilmiah menghambat visibilitas bisnis lokal dan mengacaukan arus pejalan kaki.

Hingga tahun 2024, terdapat lebih dari 8.500 struktur perancah yang menutupi sekitar 330 mil jalanan New York. Ironisnya, struktur ini rata-rata menetap selama hampir 500 hari, menciptakan tantangan berkepanjangan bagi lanskap perkotaan.

Riset Inovatif Berbasis Kecerdasan Buatan

Guna mengukur dampak nyata dari struktur ini, tim peneliti lintas negara yang terdiri atas Junyi Li dan Zhaoxi Zhang dari University of Florida, serta Tamir Mendel dari The Academic College of Tel Aviv-Yaffo, bersama tim dari Takahiro Yabe, mengembangkan metode survei berbasis AI. Quantum Zeitgeist melaporkan bahwa mereka menggunakan large language model (LLM), khususnya Gemini 1.5 Flash dari Google, yang diintegrasikan ke dalam antarmuka obrolan (chatbot) interaktif.

Pendekatan ini melampaui survei tradisional karena mampu menggabungkan dialog adaptif dengan tugas anotasi gambar secara langsung. Peserta riset diminta untuk menandai elemen visual, seperti pintu masuk toko, dan memilih rute perjalanan yang mereka sukai melalui gambar situasi jalanan yang nyata.

Faktor Desain yang Memengaruhi Perilaku

Metode baru ini memungkinkan peneliti mengumpulkan data kuantitatif dan kualitatif secara mendalam. Beberapa parameter desain perancah yang dianalisis meliputi:

  • Tinggi celah: Seberapa tinggi ruang di bawah perancah bagi pejalan kaki.
  • Jarak antar-tiang: Kepadatan struktur yang memengaruhi ruang gerak.
  • Warna perancah: Pengaruh visual terhadap estetika dan kenyamanan psikologis pejalan kaki.

Melalui pemodelan logistic mixed-effects, para peneliti menemukan bahwa kehadiran perancah secara signifikan menurunkan kemampuan pejalan kaki dalam mengidentifikasi pintu masuk toko ritel di lantai dasar. Hal ini memberikan bukti empiris yang selama ini hilang dari praktik perencanaan kota konvensional.

Hasil analisis terhadap 25 partisipan menunjukkan bahwa keputusan pejalan kaki dalam memilih trotoar sangat dipengaruhi oleh kombinasi desain perancah dan kondisi cuaca. Riset ini memberikan data kuat bagi pemerintah kota untuk merevisi panduan pembangunan sidewalk sheds agar lebih ramah bagi pejalan kaki dan pemilik usaha tanpa mengorbankan standar keselamatan.

Studi ini bukan hanya menawarkan bukti empiris untuk memperbaiki pedoman perancah trotoar, tetapi juga mendemonstrasikan metodologi perintis untuk mengintegrasikan AI generatif ke dalam penelitian perkotaan. Langkah ini menandai pergeseran penting menuju perencanaan kota partisipatif secara digital. Dengan cara ini, masukan publik dapat langsung diolah menjadi wawasan berbasis data untuk merumuskan kebijakan infrastruktur sementara yang lebih adaptif.

Keberhasilan integrasi AI dalam riset ini membuka peluang baru bagi pengumpulan data yang lebih fleksibel di masa depan. Penggunaan chatbot yang mampu bertanya secara adaptif memberikan pemahaman lebih dalam mengenai alasan di balik pilihan rute pejalan kaki.
 

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!