Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Tiongkok Tiongkok Mulai Gunakan Drone dan Robot untuk Kebij...
Tiongkok

Tiongkok Mulai Gunakan Drone dan Robot untuk Kebijakan Pertanian 2026

Tiongkok Mulai Gunakan Drone dan Robot untuk Kebijakan Pertanian 2026

Pemerintah Tiongkok secara resmi menempatkan penggunaan drone dan robot sebagai inti dari cetak biru kebijakan pertanian nasional tahun 2026. Melalui Dokumen Sentral No. 1 yang dirilis pada 3 Februari, kendaraan udara nirawak kini diakui sebagai instrumen vital yang tak terpisahkan dari aktivitas petani modern.

Dokumen strategis yang diterbitkan oleh otoritas pusat setiap awal tahun ini menjadi indikator utama prioritas kebijakan Tiongkok. Sejak tahun 2004, dokumen tersebut konsisten berfokus pada kesejahteraan pedesaan, tetapi tahun ini memberikan penekanan khusus pada percepatan terobosan teknologi low-altitude economy serta manufaktur hayati pertanian.

Dominasi Drone Pertanian Global

Tiongkok saat ini memegang kendali atas mayoritas populasi drone pertanian di tingkat global. Hal ini ditegaskan oleh Zhu Weidong, Wakil Direktur Kantor Komisi Keuangan Pusat sekaligus Wakil Direktur Kantor Kelompok Kerja Pedesaan Pusat, dalam konferensi pers baru-baru ini.

“Tiongkok telah menjadi negara terbesar di dunia berdasarkan jumlah drone pertanian yang beroperasi,” ujar Zhu Weidong dikutip dari Yicai Global.

Zhu memerinci bahwa penggunaan teknologi ini telah berkembang pesat. Drone tidak lagi hanya digunakan untuk perlindungan tanaman, tetapi juga merambah ke sektor penyemaian, pemupukan, pemantauan lahan, hingga pengangkutan hasil bumi.

“Dari sekitar 500.000 drone pertanian yang digunakan di seluruh dunia, lebih dari 300.000 berada di Tiongkok,” kata Zhu. Ia menambahkan, “Drone telah menjadi alat yang sangat penting bagi banyak petani, seperti halnya celurit dan cangkul di masa lalu.”

Kecerdasan Buatan sebagai Mesin Baru

Pemerintah Tiongkok mendorong integrasi mendalam antara kecerdasan buatan (AI) dengan sektor pertanian. Langkah ini mencakup penyebaran masif internet of things (IoT) dan robotika guna menciptakan kekuatan produktif baru yang berfungsi sebagai mesin penggerak modernisasi pedesaan.

Zhu menekankan bahwa pencapaian ilmiah tidak boleh berhenti di atas kertas penelitian atau pengajuan paten semata. Teknologi tersebut harus diimplementasikan secara nyata untuk menjawab tantangan praktis yang dihadapi petani di lapangan. Hal ini bertujuan untuk menutup celah hambatan distribusi teknologi hingga ke tingkat rumah tangga di pelosok desa.

Zhu Keli, Dekan Pendiri Institut Riset Nasional untuk Ilmu Ekonomi Baru, menjelaskan bahwa ekonomi yang diwakili oleh drone berkembang beriringan dengan kekuatan produktif lainnya. Hal ini mencakup pemuliaan biologis yang inovatif, pengembangan mesin pertanian pintar, dan transformasi peternakan serta pertanian berbasis data.

Melalui integrasi teknologi dan koordinasi operasi, elemen-elemen tersebut akan membentuk sistem produksi pertanian modern yang lebih efisien. Dokumen Sentral No. 1 juga menetapkan langkah baru untuk meningkatkan efisiensi inovasi, termasuk pengembangan platform riset dan dukungan bagi bisnis rintisan teknologi terkemuka di industri pangan.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!