Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Jawa Barat Depok Bangun Basis Data Terpadu Hewan Jalanan, Man...
Jawa Barat

Depok Bangun Basis Data Terpadu Hewan Jalanan, Manfaatkan Satu Peta Anabul

Depok Bangun Basis Data Terpadu Hewan Jalanan, Manfaatkan Satu Peta Anabul

Upaya menata persoalan hewan jalanan di Kota Depok kini memasuki babak baru. Pemerintah daerah mulai memperkuat fondasi penanganan lewat pendekatan berbasis data dan pemetaan spasial, memanfaatkan teknologi digital untuk memahami sebaran hewan terlantar serta kebutuhan intervensinya. Langkah ini ditegaskan dalam Sosialisasi Pendataan dan Pemetaan Hewan melalui Platform Satu Peta Anabul yang digelar Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Depok, Kamis, 4 Desember 2025.

Kegiatan berlangsung secara luring dan daring, diikuti perwakilan sekolah negeri dan swasta, penanggung jawab zoonosis dari Puskesmas dan Dinas Kesehatan, serta camat dan lurah se-Kota Depok. Kehadiran berbagai pemangku kepentingan ini menunjukkan bahwa isu hewan jalanan tak lagi dilihat semata sebagai masalah keramaian kota, tetapi juga menyangkut kesehatan masyarakat, ruang publik, hingga tata kelola data.

Kepala DKP3 Kota Depok, Widyati Riyandani, menegaskan bahwa pendataan merupakan pijakan pertama dalam memahami dinamika hewan liar di lapangan. Fokus utamanya adalah kucing dan anjing yang hidup di ruang publik tanpa pemilik.

“Pendataan ini menjadi dasar bagi kami dalam memahami sebaran hewan liar, kondisi kesehatannya, serta kebutuhan penanganan di masing-masing wilayah. Data tersebut sangat penting terutama ketika berbicara mengenai kebijakan penanganan hingga kemungkinan pembangunan shelter,” ujarnya kepada berita.depok.go.id.

Materi teknis penggunaan platform dipaparkan oleh Rizka Zamzani Ibrahim dari komunitas NgePawRangers, pengembang Satu Peta Anabul. Ia menjelaskan bahwa platform ini dirancang menjadi pusat informasi digital yang mengintegrasikan laporan hewan jalanan dari berbagai pihak, mulai dari lokasi temuan, kondisi kesehatan, status sterilisasi, hingga aktivitas penyelamatan.

“Selama ini, data hewan jalanan terpecah-pecah di berbagai komunitas atau individu. Melalui Satu Peta Anabul, seluruh laporan dapat dihimpun secara terintegrasi sehingga pemangku kepentingan memiliki dasar yang sama dalam merencanakan intervensi,” jelas Rizka.

Hingga Juli 2025, platform tersebut mencatat 1.416 laporan hewan liar yang terdiri atas 1.410 kucing dan enam anjing. Dari jumlah itu, 21 persen telah menjalani sterilisasi. Mayoritas hewan ditemukan dalam kondisi sehat, meski sebagian dilaporkan dalam keadaan sakit atau terluka.

Dari sudut pandang kesehatan hewan dan kewaspadaan zoonosis, data terpusat ini sangat vital. Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) DKP3 Depok, Dede Zuraida, menekankan bahwa pemetaan membantu pemerintah mengidentifikasi titik-titik yang perlu perhatian cepat.

“Platform ini memungkinkan kami melihat lokasi yang menjadi titik berkumpul koloni kucing atau anjing, termasuk wilayah dengan laporan kesehatan yang membutuhkan penanganan cepat. Data ini akan membantu dalam pengambilan keputusan terkait vaksinasi, sterilisasi, ataupun pelaporan kasus,” tuturnya.

Ia juga menegaskan pentingnya kontribusi komunitas. “Relawan dan komunitas adalah pihak yang paling dekat dengan hewan-hewan ini. Mereka memberikan laporan real-time yang nantinya memperkaya data untuk dianalisis,” kata Dede.

Gambar 1

Peta Digital Pertama untuk Hewan Jalanan di Indonesia

Satu Peta Anabul disebut sebagai platform pemetaan digital hewan jalanan pertama di Indonesia. Pengembangnya, NgePawRangers, membawa visi “One Health” dengan menghubungkan aspek kesejahteraan hewan, kesehatan masyarakat, dan pelibatan komunitas. Melalui fitur pendaftaran hewan, pelacakan kondisi, pelaporan aktivitas (pemberian makan, sterilisasi, penyelamatan), serta pemetaan menggunakan SIG, sistem ini menjadi pusat data yang dapat diperbarui secara berkala oleh relawan.

Sebelum hadirnya platform ini, fragmentasi informasi menjadi tantangan besar: data tersebar di berbagai komunitas, sulit diakses, dan tidak pernah terhimpun dalam satu wadah. Akibatnya, penanganan hewan jalanan cenderung reaktif dan tidak berbasis rencana jangka panjang.

Dengan data real-time yang dapat dipetakan secara geografis, pemerintah dan komunitas kini bisa menentukan prioritas, mengidentifikasi wilayah rawan, hingga menyusun kampanye sterilisasi dan vaksinasi berbasis bukti. Platform ini juga mendorong kolaborasi antarorganisasi serta menyediakan dasar kuat untuk advokasi kebijakan terkait kesejahteraan hewan.

Selain itu, akses data yang terbuka bagi masyarakat membantu membangun kesadaran publik. Relawan dapat melihat dampak kontribusi mereka melalui pelaporan yang transparan.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!