Lonjakan korban jiwa akibat banjir besar di Sumatera kembali menegaskan betapa dahsyatnya bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November–awal Desember 2025. Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Senin, 8 Desember 2025, Basarnas menyampaikan pembaruan terbaru yang menunjukkan situasi yang makin mengkhawatirkan.
Dilansir dari Tempo.co, Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, melaporkan bahwa jumlah korban meninggal telah mendekati seribu orang. “Update pukul 08.00 tadi pagi, bahwa jumlah korban yang dinyatakan meninggal total ada 974 jiwa,” ujar Syafii di Kompleks DPR, Jakarta. Selain itu, masih ada 298 orang yang dilaporkan hilang dan dalam pencarian.
Sementara itu, jumlah warga yang berhasil dievakuasi mencapai 10.957 orang, dengan 9.983 orang di antaranya dinyatakan selamat. Syafii mengakui bahwa data Basarnas dan BNPB belum sepenuhnya selaras karena pencatatan dilakukan oleh banyak lembaga di berbagai daerah terdampak. Namun, ia optimistis perbedaan itu akan teratasi. “Untuk jumlah (korban) meninggal dunia saat ini dengan 974 (orang) juga masih ada selisih dengan data yang dikeluarkan oleh BNPB. Namun, kami yakinkan data ini nantinya akan sama,” tuturnya.
Manfaat Petabencana.id
Di tengah situasi yang bergerak cepat, masyarakat mengandalkan kanal informasi real-time untuk memantau kondisi banjir. Salah satu rujukan utama adalah PetaBencana.id, platform berbasis laporan warga yang memvisualisasikan titik-titik banjir secara langsung. Melalui urun daya digital ini, informasi bencana tidak lagi bergantung pada laporan resmi yang kerap membutuhkan waktu. “Informasi ini muncul real time, berdasarkan laporan publik,” demikian penjelasan platform tersebut, dikutip dari netralnews.com.
Dengan tampilan yang ramah gawai, pengguna cukup membuka situs, memilih lokasi, dan melihat tingkat keparahan banjir melalui warna, seperti merah, jingga, kuning, hingga hijau. Kontribusi laporan warga juga sangat mudah, cukup melalui mention ke akun X atau Instagram @petabencana di media sosial, atau melalui pesan di WhatsApp atau Telegram. Setiap laporan diverifikasi oleh tim PetaBencana.id dan divalidasi oleh instansi pemerintah, seperti BNPB, sebelum muncul di peta interaktif.
Model pelaporan ini bekerja dengan tiga langkah utama:
-
Pelaporan komunitas, di mana warga mengirim informasi banjir, angin kencang, atau bencana lain melalui media sosial atau aplikasi lokal.
-
Validasi data oleh tim dan lembaga terkait agar informasi yang ditampilkan akurat.
-
Visualisasi peta, yang menandai kondisi lapangan menggunakan label warna berdasarkan tingkat siaga.
Peta yang sudah terbangun kemudian bisa dibagikan kembali oleh warga untuk memperluas informasi, sementara pemerintah dan tim penyelamat memakai data tersebut untuk mempercepat koordinasi dan menentukan prioritas evakuasi.
Keberadaan platform seperti PetaBencana.id terbukti memberi manfaat signifikan di tengah bencana yang bergerak cepat, seperti banjir Sumatera kali ini. Informasi real-time membantu warga memahami situasi, merencanakan evakuasi, dan menghindari jalur berbahaya. Bagi tim darurat, data crowdsource yang tervalidasi mempercepat penyaluran bantuan dan pengambilan keputusan. Di tengah kabar duka dan angka korban yang terus bertambah, kemampuan masyarakat berbagi informasi secara langsung menjadi salah satu elemen penting dalam mempercepat respons dan meminimalkan risiko.
