Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Lingkungan Begini Cara Citra Satelit Mengungkap Sebaran Mikro...
Lingkungan

Begini Cara Citra Satelit Mengungkap Sebaran Mikroplastik di Lautan

Begini Cara Citra Satelit Mengungkap Sebaran Mikroplastik di Lautan

Setiap tahun, hingga 14 juta ton sampah plastik mengalir ke lautan dunia. Angka ini diperkirakan mencapai tiga kali lipat pada 2040 jika tidak ada intervensi serius. Selama ini, polusi plastik sering dipandang sebagai persoalan lingkungan semata. Padahal, dampaknya jauh menembus batas ekosistem laut, masuk ke air minum, bahan pangan, hingga tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik. Pertanyaannya, bagaimana melacak krisis yang tersebar di ruang seluas dan seaktif lautan?

Namun, memahami skala masalah ini bukanlah hal mudah. Lautan terus bergerak, arus berubah arah, dan cuaca memengaruhi sebaran sampah dari waktu ke waktu. Mikroplastik pun banyak yang tenggelam atau tertutup sedimen sehingga luput dari pengamatan. Survei laut tradisional hanya dapat menjangkau area terbatas sehingga upaya membuat pemetaan polusi plastik berskala besar menjadi tantangan tersendiri.

Di sinilah, perkembangan teknologi geospasial memberi jalan keluar. Poseidon Plastic Tracking System, sebuah inisiatif dari HSR.health yang tergabung dalam Group on Earth Observations (GEO), hadir untuk mendeteksi dan memantau sampah plastik melalui citra satelit dan kecerdasan buatan. Sistem ini menggabungkan data observasi bumi dengan model arus laut dan analisis AI untuk memetakan lokasi penumpukan plastik, memprediksi pergerakannya, dan mengidentifikasi wilayah yang paling berisiko.

Informasi yang dihasilkan Poseidon akan dibagikan melalui katalog STAC sehingga pemerintah, lembaga konservasi, dan otoritas kesehatan dapat menggunakan data tersebut untuk merencanakan aksi pembersihan, membuat regulasi yang lebih tepat, atau memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat sebelum dampaknya makin parah.

Gambar 1

Urgensi pemantauan ini makin terasa karena polusi plastik telah menjadi isu kesehatan manusia. Berdasarkan laporan Group on Earth Observations, mikroplastik, partikel berukuran kurang dari 5 milimeter, telah ditemukan dalam darah, paru-paru, hingga plasenta. Keberadaan partikel ini dalam rantai makanan memunculkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan hormon, peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, dan paparan bahan kimia berbahaya yang menempel pada plastik.

Oleh karena itu, memetakan keberadaan plastik saja tidak cukup; yang juga penting adalah mengukur seberapa besar paparan manusia terhadap polusi tersebut. Poseidon membantu menganalisis kerentanan populasi berdasarkan kedekatan dengan wilayah perairan yang tercemar, tingkat konsumsi boga bahari, serta kondisi kesehatan masyarakat.

Gambar 2

Sebelum sistem seperti Poseidon berkembang, riset berbasis satelit sudah lebih dulu membuka wawasan mengenai sebaran mikroplastik global. Pada 2022, peneliti dari University of Michigan memanfaatkan delapan mikrosatelit dalam NASA’s CYGNSS untuk memetakan konsentrasi mikroplastik di lautan. CYGNSS menerima sinyal GPS yang memantul dari permukaan laut dan mengukurnya untuk mengetahui tingkat kekasaran ombak. Ketika ombak tampak lebih tenang dari seharusnya, hal itu menjadi indikasi adanya sampah atau mikroplastik yang meredam gelombang.

Gambar 3

Penelitian tersebut menjadi yang pertama memetakan mikroplastik pada skala luas dengan resolusi waktu tinggi. Hasilnya mengungkap variasi musiman yang menarik. Di Great Pacific Garbage Patch, misalnya, konsentrasi mikroplastik lebih tinggi pada musim panas dan menurun di musim dingin. Pola serupa terlihat pada pusaran lain di berbagai samudra. Ketika menelusuri aliran sungai-sungai besar dunia, para peneliti juga melihat tingginya kontribusi mikroplastik dari Sungai Yangtze dan Ganges.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!