Fenomena iklim ekstrem yang kerap dijuluki sebagai El Nino Godzilla mengintai sektor pertanian Indonesia pada tahun 2026. Pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Prof. Totok Agung Dwi Haryanto, memperingatkan risiko penurunan produksi pangan nasional akibat musim kemarau yang lebih panjang serta suhu udara yang jauh lebih panas dari kondisi normal.
Meskipun bukan istilah resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebutan "Godzilla" mencerminkan kekuatan besar anomali suhu di Samudra Pasifik yang menggeser pusat awan hujan menjauh dari Nusantara. Secara geospasial, wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga sebagian Sumatera dan Kalimantan kini menjadi zona paling rentan terhadap kekeringan.
Baca juga: El Nino Godzilla Bakal Terjang Indonesia, Apa Itu?
Ancaman Gagal Panen di Tengah Suhu Panas
Gangguan pada sektor pertanian akibat el nino umumnya dipicu oleh dua faktor utama, yaitu kelangkaan air dan peningkatan suhu udara. Kombinasi keduanya dapat memicu stres pada tanaman yang berujung pada terhambatnya pertumbuhan hingga risiko gagal panen secara massal.
"Fenomena el nino akan menyebabkan musim kemarau memanjang sehingga berdampak pada pertumbuhan dan produksi tanaman, khususnya tanaman pangan dan hortikultura," ujar Prof. Totok di Purwokerto, Kabupaten Banyumas pada Selasa, 31 Maret 2026, sebagaimana dikutip ANTARA.
Hingga akhir Maret ini, curah hujan di wilayah Jawa Tengah memang terpantau masih relatif tinggi. Namun, Prof. Totok mengingatkan agar semua pihak tetap waspada karena BMKG memprediksi kekeringan akan datang lebih cepat. Kepastian mengenai awal masa kekeringan sangat krusial agar petani dapat menyesuaikan pola tanam dan memilih komoditas yang lebih tangguh.
Sebagai langkah mitigasi, petani didorong untuk mulai beralih ke varietas tanaman yang toleran terhadap kondisi kering, seperti padi gogo. Selain pemilihan benih, strategi percepatan masa tanam pada musim tanam kedua (MT II) menjadi kunci agar tanaman mencapai fase pertumbuhan optimal sebelum puncak kemarau tiba.
"Pembibitan bisa dilakukan lebih awal, bahkan sebelum panen musim tanam pertama, sehingga setelah panen lahan bisa langsung diolah dan ditanami kembali," jelas Prof. Totok mengenai pentingnya efisiensi waktu di lapangan.
Pengelolaan sumber daya air menjadi faktor penentu dalam menghadapi kemarau panjang. Optimalisasi sumur pantek serta penggunaan pompa air harus dilakukan untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian. Dalam hal ini, akses terhadap bahan bakar minyak (BBM) jenis solar menjadi komponen vital dalam menggerakkan mesin-mesin pertanian tersebut.
Prof. Totok menekankan pentingnya intervensi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan kemudahan distribusi solar bagi para petani. "Perlu ada kebijakan yang memudahkan petani mendapatkan BBM dengan harga terjangkau, misalnya melalui skema subsidi atau distribusi khusus ke wilayah pertanian," tegasnya.
Selain masalah energi, kelancaran distribusi air melalui jaringan irigasi juga harus dijaga. Ia menyarankan agar kegiatan perbaikan irigasi yang mengharuskan pengeringan saluran sebaiknya ditunda selama musim kemarau jika kondisinya tidak mendesak. Menurutnya, perbaikan irigasi sebaiknya dilakukan pada waktu lain agar tidak mengganggu suplai air yang sangat dibutuhkan untuk proses tanam dan produksi pangan.
