Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Kebencanaan Data Terbaru Ungkap Pulau Jawa Dikelilingi 401 Ses...
Kebencanaan

Data Terbaru Ungkap Pulau Jawa Dikelilingi 401 Sesar Gempa Aktif

Data Terbaru Ungkap Pulau Jawa Dikelilingi 401 Sesar Gempa Aktif

Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) melalui laporan “Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2024” kembali menegaskan bahwa Indonesia berdiri di atas sistem geodinamik yang rumit dan terus bergerak. Pembaruan ini bukan sekadar revisi data, melainkan refleksi atas dinamika kerak bumi yang terus dipantau melalui kemajuan teknologi survei geologi, citra satelit, serta pemodelan geospasial terkini. Jika pada pembaruan 2010 dan 2017 peta sumber gempa telah memberikan gambaran rinci, maka edisi 2024 menghadirkan lompatan signifikan—khususnya untuk Pulau Jawa yang menjadi episentrum perhatian.

Dilansir dari akun gempa.dunia, secara kuantitatif, jumlah sesar aktif kerak dangkal di Pulau Jawa kini teridentifikasi mencapai 401 segmen, melonjak tajam dibandingkan 273 sumber gempa pada edisi 2017. Kenaikan ini bukan berarti aktivitas tektonik baru muncul secara tiba-tiba, melainkan hasil dari pemetaan yang makin detail dan resolusi data yang lebih presisi. Dengan pendekatan geomorfologi, paleoseismologi, serta integrasi data GPS geodetik, para peneliti mampu mengidentifikasi segmen-segmen patahan yang sebelumnya belum terpetakan secara komprehensif.

Secara spasial, distribusi sesar aktif tersebut membentang dari zona barat Jawa yang berdekatan dengan Selat Sunda, melintasi Jawa Tengah, hingga ke Jawa Timur yang beririsan dengan sistem tektonik Bali–Flores. Pola ini menunjukkan konfigurasi tekanan konvergensi yang konsisten akibat interaksi antara Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Tekanan tersebut tidak hanya menghasilkan gempa megathrust di zona subduksi selatan Jawa, tetapi juga memicu deformasi kerak dangkal di daratan, yang berpotensi menimbulkan gempa merusak dengan kedalaman relatif dangkal.

Baca juga: Daftar Zona Megathrust di Indonesia Bertambah, Ini Daftar Lengkapnya

Dalam perspektif geospasial, Pulau Jawa berada pada posisi yang sangat strategis sekaligus rentan. Sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia, konsentrasi sesar aktif ini beririsan langsung dengan kawasan urban, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Surabaya. Banyak dari zona patahan aktif tersebut berada dekat dengan pusat ekonomi, jaringan transportasi, kawasan industri, hingga infrastruktur vital, seperti bendungan dan pembangkit listrik. Tumpang tindih antara bahaya geologi dan konsentrasi populasi inilah yang meningkatkan tingkat risiko bencana secara eksponensial.

Oleh karena itu, pembaruan peta sumber gempa 2024 bukan sekadar dokumen ilmiah, melainkan juga fondasi kebijakan. Integrasi data kebencanaan ke dalam rencana tata ruang wilayah menjadi kebutuhan mendesak. Analisis mikrozonasi, audit ketahanan bangunan, serta penguatan standar konstruksi harus disesuaikan dengan peta bahaya terbaru. Tanpa langkah adaptif berbasis data spasial, kerentanan akan terus membesar seiring pertumbuhan kota dan pembangunan infrastruktur.

Pada akhirnya, temuan ini menjadi sinyal kuat bagi seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan literasi kebencanaan dan kesiapsiagaan. Gempa mungkin tak bisa dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat diminimalkan melalui perencanaan berbasis sains dan kesadaran kolektif.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!