Transformasi digital di sektor maritim Indonesia kian menunjukkan arah yang progresif seiring meningkatnya kebutuhan akan sistem navigasi yang presisi, adaptif, dan berbasis data spasial. Hal tersebut terlihat dari kerja sama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menghadirkan inovasi smart buoy sebagai penguatan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) berbasis digital.
Kerja sama yang ditegaskan melalui Perjanjian Kerja Sama pada 5 September 2024 antara Distrik Navigasi Tanjung Intan dan Pusat Riset Elektronika BRIN ini menandai integrasi teknologi sensor, sistem telemetri, serta pemantauan real-time dalam satu ekosistem kenavigasian. Dilansir dari laman resmi BRIN, nantinya smart buoy berperan sebagai titik observasi berbasis koordinat yang mampu mengirimkan data kondisi arus, gelombang, dan dinamika perairan secara langsung ke pusat kendali sehingga menghadirkan peta situasional laut yang terus diperbarui.
Jejaring sensor ini membuka peluang analisis spasial berbasis big data untuk memetakan risiko kecelakaan, memprediksi gangguan navigasi, serta mendukung mitigasi bencana. Selain keselamatan pelayaran, teknologi ini berpotensi dikembangkan untuk pemantauan lingkungan dan sistem peringatan dini tsunami sehingga menciptakan konvergensi antara keselamatan maritim, ketahanan energi, dan pengelolaan risiko kebencanaan dalam satu platform digital yang presisi dan responsif.
Secara strategis, implementasi teknologi ini berfokus pada alur pelayaran Tanjung Intan–Cilacap yang menjadi simpul penting distribusi energi nasional. Jalur tersebut menopang operasional PT Pertamina (Persero) RU IV Cilacap dengan kapasitas produksi mencapai 348.000 barel per hari, memasok sekitar 34 persen kebutuhan BBM nasional dan 60 persen kebutuhan Pulau Jawa. Direktur Jenderal Perhubungan Laut Muhammad Masyhud menyatakan bahwa keandalan sistem navigasi di kawasan ini merupakan faktor krusial karena perannya sebagai jalur vital distribusi energi nasional. Ia menegaskan pemanfaatan smart buoy memungkinkan pemantauan kondisi perairan secara real time sehingga respons darurat dapat dilakukan lebih cepat dan akurat demi menjamin keselamatan serta kelancaran pelayaran.
Secara nasional, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut mengelola 5.468 unit SBNP yang tersebar di 25 Distrik Navigasi, sebuah cakupan geografis yang menuntut sistem pengawasan terintegrasi dan berkelanjutan. Sejak 2022, BRIN telah mengembangkan purwarupa smart buoy dan memasangnya di Distrik Navigasi Tanjung Emas Semarang, sebelum diperluas ke Tanjung Intan Cilacap pada 2024 dengan dua unit yang telah terintegrasi ke control center.