Perjalanan matahari dari fajar hingga senja menjadi penentu utama ritme hidup jutaan umat Islam saat Ramadan menyapa. Namun, durasi menahan lapar dan dahaga di berbagai belahan dunia ternyata tidak pernah seragam. Letak geografis sebuah kota memegang kendali penuh atas seberapa lama penduduknya harus menunggu waktu berbuka.
Sebagai pilar keempat dalam Islam, ibadah puasa Ramadan bersifat wajib bagi setiap muslim. Pada tahun 2026, fenomena perbedaan waktu ini kembali menjadi perhatian karena adanya kontras yang cukup mencolok antara wilayah di belahan bumi utara dan selatan.
Ramadan 2026 menghadirkan tantangan tersendiri bagi umat Islam yang bermukim di belahan bumi selatan. Di wilayah ini, durasi puasa tercatat sebagai yang terlama, di mana masyarakat harus berpuasa lebih dari 14 jam setiap harinya.
Menurut laporan Aceh Ground, Kota Christchurch di Selandia Baru menjadi salah satu wilayah dengan waktu puasa paling panjang, yakni mencapai sekitar 15 jam 20 menit. Kondisi serupa juga dialami oleh muslim di Cile, Australia, Argentina, Uruguay, serta Afrika Selatan dengan rata-rata waktu puasa berkisar antara 14 hingga 15 jam.
Sebaliknya, pemandangan berbeda terlihat di belahan bumi utara. Muslim di kawasan Eropa Utara dan sebagian Eropa Barat menikmati durasi puasa yang relatif singkat, yaitu sekitar 11 hingga 12 jam. Kota-kota seperti Paris, Reykjavik di Islandia, Helsinki di Finlandia, Oslo di Norwegia, dan Moskow di Rusia menjadi wilayah dengan waktu puasa paling singkat selama Ramadan 2026.
Berbeda dengan negara-negara di lintang tinggi, Indonesia yang terletak di garis khatulistiwa memiliki transisi siang dan malam yang cenderung stabil. Durasi puasa di tanah air umumnya berlangsung antara 12 hingga 13 jam.
Meskipun stabil, perbedaan tipis tetap terjadi antarwilayah di Indonesia. Sebagai contoh, di Kota Sabang, Aceh, durasi puasa berlangsung selama 13 jam 28 menit, sementara di Jakarta durasi puasa sedikit lebih pendek dengan waktu sekitar 13 jam 13 menit.
Sains di Balik Perbedaan Waktu
Perbedaan durasi puasa merupakan fenomena alamiah yang dipengaruhi oleh rotasi dan revolusi bumi. Rotasi bumi pada porosnya dengan kemiringan 23,5 derajat menyebabkan pergantian siang dan malam. Namun, variasi panjang siang hari lebih banyak dipengaruhi oleh kemiringan sumbu bumi saat melakukan revolusi atau mengelilingi matahari selama 365,25 hari.
Pada Ramadan 2026, posisi bumi menyebabkan wilayah utara sedang berada pada periode akhir musim dingin menuju awal musim semi sehingga siang hari terasa lebih pendek. Di saat yang sama, belahan bumi selatan sedang mengalami masa transisi dari akhir musim panas menuju musim gugur, yang mengakibatkan siang hari bertahan lebih lama. Sementara itu, wilayah yang berada di garis ekuator menunjukkan angka yang lebih stabil, namun tetap bervariasi.
