Penguatan sistem peringatan dini berbasis geospasial menjadi langkah strategis yang ditempuh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam merespons peningkatan risiko bencana hidrometeorologi di Indonesia. Kolaborasi ini diarahkan pada integrasi sains atmosfer, teknologi pemodelan numerik, serta analisis spasial untuk mendukung konsep “early warning, early action, zero victim”.
Sistem peringatan dini tidak lagi berhenti pada prediksi curah hujan atau kecepatan angin, tetapi berkembang menjadi platform analitik yang mampu memetakan bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan keterpaparan (exposure) secara simultan hingga skala lokal. Dengan pendekatan ini, informasi meteorologis ditransformasikan menjadi peta risiko yang operasional sehingga dapat langsung digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan mitigasi baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menyatakan bahwa dinamika hidrometeorologi terkini menegaskan perlunya sistem peringatan dini yang kian presisi hingga skala lokal untuk mendukung pengambilan keputusan cepat. “Informasi peringatan dini tidak hanya cepat dan akurat, namun juga komprehensif, mudah dipahami, dan dapat langsung ditindaklanjuti untuk dasar melakukan mitigasi di lapangan. Spirit yang kami dorong adalah early warning, early action, zero victim,” tegas Andri.
Sebagai langkah konkret, BMKG menjalin kerja sama strategis dengan ITB dalam dua fokus utama yang saling terintegrasi. Pertama, pengembangan model cuaca resolusi tinggi melalui skema joint development guna meningkatkan akurasi prediksi hingga skala lokal. Kedua, penguatan impact-based forecast dengan dukungan model risiko, hidrologi, dan hidrodinamika untuk memproyeksikan dampak cuaca ekstrem secara lebih komprehensif dan operasional.
Pada fase awal, penerapan program ini diprioritaskan di kawasan Jabodetabek yang dikenal memiliki tingkat kerawanan banjir cukup kompleks, mulai dari wilayah hulu hingga hilir, termasuk ancaman genangan pesisir. Penggabungan model hidrologi dengan model kelautan menjadi elemen krusial dalam sistem tersebut untuk menghadirkan peringatan dini yang lebih menyeluruh dan akurat.
Kepala Pusat Analisis dan Penerapan Geospasial ITB Wedyanto menyatakan bahwa early warning dan zero victim menjadi dasar sekaligus tujuan bersama dalam menyelamatkan masyarakat Indonesia dari bencana. Melalui integrasi observasi, pemodelan, diseminasi, dan respons berbasis lokasi, kolaborasi ini memperkuat transformasi riset ke operasional demi membangun ketahanan nasional terhadap cuaca ekstrem di masa depan.
