Insiden dugaan tumpahan sekitar 2,5 ton pestisida di Sungai Cisadane menjadi alarm serius dalam tata kelola lingkungan berbasis wilayah. Pencemaran yang menyebar hingga radius 22,5 kilometer menunjukkan bagaimana kontaminan mengikuti pola jaringan aliran sungai dan berdampak lintas batas administratif, mulai dari Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, hingga Kota Tangerang Selatan.
Baca juga: Dua Puluh Ton Pestisida Bakar Cemari 22,5 Km Sungai Cisadane, Biota Air Mati Massal
Peneliti Ahli Utama Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Prof. Ignasius D. A. Sutapa, menyatakan dalam keterangan resmi bahwa peristiwa ini merupakan krisis ekologis akut yang memerlukan respons cepat dan terkoordinasi lintas sektor. Ia menjelaskan bahwa karakteristik kimia pestisida yang memiliki kelarutan tinggi dan stabilitas relatif di lingkungan perairan mempercepat penyebaran secara homogen di sepanjang koridor sungai.
Dampak ekologisnya sangat serius karena konsentrasi tinggi dapat memicu kematian massal biota air, seperti ikan, zooplankton, dan fitoplankton, yang kerap ditandai dengan fenomena ikan mati mendadak. Selain toksisitas akut, residu pestisida berpotensi mengalami bioakumulasi dalam jaringan organisme air dan mengalami biomagnifikasi di sepanjang rantai makanan hingga mencapai manusia. Kontaminan juga dapat terikat pada sedimen dasar sungai dan menjadi sumber pelepasan racun sekunder dalam jangka panjang meskipun kualitas air permukaan tampak membaik.
