Bagi siapa pun yang pertama kali menjejakkan kaki di Chicago, ada satu hal yang hampir pasti mereka rasakan, yaitu betapa mudahnya menemukan arah. Tidak perlu peta rumit atau GPS canggih, cukup perhatikan nama jalan dan angka alamat maka orang akan tahu mereka sedang berada di mana dan ke arah mana harus melangkah.
Keistimewaan ini lahir dari sesuatu yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat menentukan: pola jalan kotak-kotak atau grid. Hampir seluruh ruas jalan Chicago tersusun dengan keteraturan nyaris sempurna, seolah kota ini sejak awal dirancang dengan satu penggaris besar.
Sejarahnya bermula pada tahun 1830-an. Dilansir dari Chicago Magazine, saat itu, Chicago hanyalah sebuah permukiman kecil di tepi Sungai Chicago. Seorang surveyor bernama James Thompson diminta membuat peta kota. Alih-alih membiarkan jalan berkelok mengikuti jalur sungai atau jejak lama penduduk, Thompson menerapkan sistem pembagian tanah yang sudah digunakan pemerintah Amerika sejak abad ke-18: kotak-kotak seragam yang memudahkan perhitungan. Dari keputusan sederhana inilah, wajah Chicago mulai terbentuk.
Grid itu kemudian diperluas seiring pertumbuhan kota. Bahkan, banyak bangunan yang awalnya berdiri menyimpang akhirnya dipindahkan agar sesuai dengan pola. Ditambah lagi, kondisi geografis Chicago yang berupa dataran luas tanpa bukit besar membuat grid bisa diterapkan hampir tanpa hambatan.
Bagi warga, grid ini bukan sekadar soal estetika. Ia menyederhanakan aktivitas kehidupan sehari-hari. Sejak 1901, sistem alamat kota mengikuti pola grid: delapan blok setara satu mil. Artinya, siapa pun bisa dengan mudah memperkirakan jarak atau menemukan lokasi hanya dari angka jalan. Tidak heran, banyak orang menyebut Chicago sebagai kota yang “ramah arah” dibandingkan kota besar lain, seperti Boston atau San Francisco, yang dipenuhi jalan berliku karena kondisi topografi yang berbukit.
Namun, keteraturan ini tidak membosankan. Beberapa jalan diagonal, seperti Milwaukee Avenue, Archer Avenue, atau Clark Street menjadi pengecualian. Jalan-jalan ini dulunya adalah jalur perdagangan, jalur penduduk asli, atau jalan lama yang sudah ada sebelum grid diperluas. Kehadiran mereka justru menambah karakter kota, memecah garis lurus yang monoton, dan menjadi pengingat bahwa kota ini juga tumbuh dari sejarah panjang, bukan semata-mata dari penggaris perencana.
Lebih dari sekadar tata ruang, grid Chicago telah membentuk identitas sosial dan budaya kota. Di mata para sosiolog, ia melambangkan semangat keteraturan, efisiensi, dan rasionalitas yang sangat “Amerika”. Di sisi lain, bagi warganya, grid berarti kemudahan beraktivitas, perasaan aman saat menjelajahi lingkungan baru, dan kepastian bahwa kota ini bisa dipahami bahkan oleh orang asing dalam hitungan menit.