Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Lingkungan Teknologi Geospasial Berhasil Ungkap Perubahan Ikl...
Lingkungan

Teknologi Geospasial Berhasil Ungkap Perubahan Iklim di Puncak Gunung Es Tertinggi Amerika

Teknologi Geospasial Berhasil Ungkap Perubahan Iklim di Puncak Gunung Es Tertinggi Amerika

Perubahan iklim terus menunjukkan jejaknya pada berbagai elemen lanskap bumi, termasuk pada kawasan yang selama ini dianggap paling stabil: puncak gunung es. Di tengah kondisi atmosfer yang kian menghangat, teknologi geospasial kini menjadi alat utama untuk mengungkap perubahan yang terjadi secara perlahan, tetapi signifikan di titik-titik tertinggi Amerika Serikat. Dengan pendekatan ilmiah yang presisi, penelitian terbaru berhasil membuktikan bagaimana puncak es legendaris di Washington mengalami penyusutan dan perubahan struktur akibat dampak pemanasan global.

Studi yang dilakukan oleh Scott Hotaling dari Quinney College of Agriculture and Natural Resources bersama Eric Gilbertson dari Seattle University memanfaatkan rangkaian teknologi geospasial, seperti differential GNSS, citra satelit, pemindaian laser, serta dokumentasi fotografi historis. Para peneliti menyatakan bahwa integrasi metode tersebut memungkinkan mereka memetakan perubahan ketinggian dan ketebalan es pada puncak-puncak tersebut dengan tingkat akurasi tinggi. Menurut laporan GPS World, mereka menggunakan perangkat Spectra ProMark 220 GNSS dengan antena Ashtech yang mampu menghasilkan akurasi hingga kurang lebih 0,03 meter, dengan setiap pengukuran dilakukan selama satu jam baik pada puncak es maupun puncak batu di sekitar yang memiliki elevasi serupa.

Gambar 1

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa lima puncak es di wilayah kontinental Amerika Serikat, seluruhnya berada di Negara Bagian Washington, mengalami penyusutan signifikan dibandingkan dengan survei historis. Para peneliti menyampaikan bahwa puncak Columbia Crest di Gunung Rainier tidak lagi menjadi titik tertinggi, digantikan oleh puncak batu yang berada sekitar 133 meter ke arah barat daya. Sejak tahun 1980, empat dari lima puncak es tersebut terbukti menyusut sedikitnya enam meter sebagai dampak hilangnya salju dan es yang secara bertahap menipis.

Data geospasial dikombinasikan dengan catatan temperatur bebas udara menunjukkan adanya pemanasan akhir musim panas sebesar 2,75°C sejak 1950. Peningkatan hari-hari mencair, terutama sejak akhir 1990-an, memperparah kondisi sehingga per 2024 hanya dua dari lima puncak yang masih memiliki es abadi pada titik tertingginya. Para peneliti menyimpulkan bahwa pola penyusutan yang seragam pada seluruh puncak es tersebut menjadi bukti kuat bahwa perubahan iklim merupakan penyebab utama transformasi yang terjadi.

Gambar 2

Melalui pemetaan geospasial presisi tinggi, perubahan yang dulu sulit terdeteksi kini dapat dianalisis dengan akurat. Teknologi ini tidak hanya membantu ilmuwan memahami dinamika geologis, tetapi juga menjadi media penting dalam memonitor dampak perubahan iklim pada kawasan ekstrem, seperti puncak gunung es tertinggi Amerika Serikat.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login dan berlangganan untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!