Kemajuan teknologi kini makin terasa manfaatnya dalam berbagai situasi darurat. Di tengah kondisi medan yang sulit dan berisiko tinggi, drone menunjukkan perannya sebagai alat yang fleksibel, mampu menjangkau area yang tidak mudah diakses manusia. Kemampuan ini menjadi sangat penting, terutama ketika upaya pencarian harus dilakukan di lingkungan yang berbahaya seperti aliran sungai deras.
Dilansir dari laporan khusus wartawan Serambi Indonesia Muhammad Nazar, peristiwa hilangnya seorang pendulang emas di Sungai Cot Kuala, Kecamatan Mane, Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh menjadi gambaran nyata dari situasi tersebut. Zainunis (29) dilaporkan terseret arus pada Sabtu, 25 April 2026 sekitar pukul 13.30 WIB, saat ia bersama dua rekannya berada di sekitar sungai. Dalam kejadian itu, Yatim (35) dan Armia (28) turut terbawa arus, tetapi keduanya berhasil diselamatkan oleh warga. Sementara itu, Zainunis hilang dan hingga kini belum ditemukan.
Lokasi kejadian berada sekitar 500 meter dari Jembatan Cot Kuala yang melintasi jalur nasional Tangse–Mane. Sungai tersebut dikenal memiliki arus yang kuat, terutama setelah hujan deras mengguyur kawasan hulu. Kondisi inilah yang kemudian menyulitkan proses pencarian sejak hari pertama.
Tim gabungan yang terdiri atas kepolisian, Basarnas Aceh, SAR Pidie, serta masyarakat setempat langsung bergerak melakukan penyisiran di sepanjang aliran sungai. Namun, medan yang curam dan arus yang tidak stabil membuat upaya pencarian secara manual memiliki risiko besar. Dalam situasi tersebut, penggunaan drone menjadi solusi untuk memperluas jangkauan pencarian tanpa membahayakan petugas.
Melalui pemantauan udara, tim berupaya menelusuri titik-titik yang sulit dijangkau, sekaligus mengamati kemungkinan keberadaan korban di sepanjang aliran sungai. Drone memungkinkan pencarian dilakukan secara lebih efisien di area berbahaya, meskipun hasil pemantauan belum menunjukkan tanda-tanda keberadaan Zainunis.
Seiring waktu, pencarian tidak hanya difokuskan di lokasi awal, tetapi juga diperluas hingga ke wilayah hilir, yakni kawasan Teunom di Kabupaten Aceh Jaya yang menjadi muara Sungai Cot Kuala. Tim terus melakukan penyisiran selama beberapa hari dengan harapan korban terbawa arus hingga ke titik tersebut.
Namun, setelah lebih dari tujuh hari pencarian tanpa hasil, operasi akhirnya dihentikan sesuai prosedur yang berlaku. Meski berbagai cara telah dilakukan, termasuk pemanfaatan drone yang terbukti membantu menjangkau medan sulit, korban belum berhasil ditemukan. Tentunya, pemanfaatan teknologi seperti drone menjadi langkah positif yang menunjukkan bahwa inovasi mulai dioptimalkan untuk mendukung proses pencarian dan evaluasi di lapangan sehingga upaya penanganan situasi darurat dapat dilakukan dengan lebih efektif dan terukur.
