Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Opini Memahami Geomitologi sebagai Cara Manusia Zaman Da...
Opini

Memahami Geomitologi sebagai Cara Manusia Zaman Dahulu Memitigasi Bencana

Memahami Geomitologi sebagai Cara Manusia Zaman Dahulu Memitigasi Bencana

Sebagai negara yang kental akan budaya dan tradisi, kisah-kisah mitologi dan supranatural tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dari legenda Nyi Roro Kidul yang kerap dikaitkan dengan ganasnya ombak selatan, cerita Gunung Tangkuban Perahu yang menyimpan jejak aktivitas vulkanik, hingga kisah Danau Toba yang dipercaya lahir dari peristiwa dahsyat di masa lampau, semuanya hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Nusantara. 

Namun, sering kali kita memandang cerita-cerita tersebut hanya sebagai dongeng atau hiburan semata, tanpa menyadari lapisan makna yang tersembunyi di baliknya. Padahal, kisah-kisah ini merupakan cerminan hubungan erat antara manusia dan alam, yang dalam kajian modern dikenal sebagai geomitologi.

Mitos-mitos yang kita pahami saat ini, sejatinya merupakan bahasa simbolik yang menjembatani keterbatasan pengetahuan ilmiah pada masa lalu. Fenomena seperti letusan gunung, gempa bumi, hingga gelombang laut yang mematikan diterjemahkan ke dalam narasi yang lebih mudah dipahami dan diingat. 

Pertanyaannya, pesan-pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh manusia zaman dahulu lewat mitos dan legenda yang kita kenal sekarang?

Apa Itu Geomitologi?

Geomitologi adalah sebuah cara memahami bagaimana manusia di masa lalu membaca dan memaknai alam melalui cerita. Istilah ini merujuk pada studi tentang tradisi lisan maupun tulisan yang diciptakan oleh masyarakat pra-ilmiah untuk menjelaskan berbagai fenomena geologi, mulai dari gempa bumi, letusan gunung berapi, banjir, tsunami, hingga terbentuknya bentang alam dan penemuan fosil. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy Vitaliano pada tahun 1968, yang melihat bahwa banyak mitos kuno sebenarnya menyimpan jejak pengamatan terhadap peristiwa alam nyata.

Dalam perkembangannya, geomitologi tidak hanya berbicara tentang cerita, tetapi juga tentang bagaimana cerita tersebut berakar pada realitas geologis. Vitaliano menjelaskan bahwa terdapat dua bentuk utama folklor geologi, pertama, kisah yang lahir karena manusia mencoba menjelaskan ciri atau fenomena alam tertentu, dan kedua, kisah yang merupakan interpretasi keliru, tetapi tetap bermakna, dari peristiwa geologi nyata, terutama bencana alam besar. 

Lebih jauh, tradisi lisan yang dibalut dalam bahasa mitologis sering kali menyimpan pengetahuan yang tidak sederhana. Cerita-cerita tersebut merupakan hasil pengamatan panjang lintas generasi terhadap tanda-tanda alam, meski tidak dikemas dalam bahasa ilmiah. Dalam beberapa kasus, geomitologi bahkan mampu memberikan petunjuk tentang peristiwa masa lalu, seperti gempa bumi, tsunami, banjir besar, hingga tumbukan meteor. Dengan demikian, geomitologi bukan sekadar kumpulan mitos, melainkan arsip pengetahuan alam yang diwariskan melalui ingatan kolektif manusia.

Geomitologi sebagai Pesan dari Masa Lalu tentang Ancaman Bencana

Geomitologi dapat dipahami sebagai bisikan dari masa lalu yang menyimpan peringatan tentang ancaman bencana yang pernah terjadi. Di balik kisah-kisah yang diwariskan turun-temurun, baik melalui legenda, mitos, maupun cerita rakyat, tersimpan jejak pengalaman manusia dalam menghadapi kekuatan alam yang tak terduga. 

Cerita-cerita ini bukan sekadar khayalan, melainkan bentuk komunikasi lintas generasi yang berfungsi mengingatkan, memberi makna, sekaligus menuntun manusia agar lebih waspada terhadap lingkungan sekitarnya. Dalam konteks ini, geomitologi hadir sebagai penghubung antara ingatan kolektif dan realitas geologis, menjadikan masa lalu bukan hanya sesuatu yang dikenang, tetapi juga dipahami sebagai pelajaran untuk menghadapi kemungkinan bencana di masa depan.

Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan dari Bagus Putro Muljadi, Asisten Profesor Teknik Kimia dan Lingkungan di University of Nottingham, pada “Diskusi Publik Peringatan Hari Warisan Dunia 2025”. Dosen sekaligus Youtuber ini berujar, "Jadi pada zaman dulu, cerita bahwa ketika Nyai Roro Kidul itu bergemuruh akan diikuti oleh Gunung Merapi karena penunggunya punya hubungan itu adalah sains purbakala. Cara memaknai alam semesta, cara orang memitigasi bencana, tapi tidak pernah dibungkus dengan bahasa sains.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa kuno tidak sekadar menciptakan mitos, melainkan merumuskan cara membaca tanda-tanda alam melalui narasi yang mudah dipahami dan diingat.

Memahami Geomitologi sebagai Cara Manusia Zaman Dahulu Memitigasi Bencana - Gambar 1
Lukisan Nyai Roro Kidul

Bukti lain bahwa kisah-kisah mitologi yang kita kenal merupakan sebuah alarm bencana dari masa lalu adalah pemaparan dari Dr. Eko Yulianto, peneliti paleotsunami di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dikutip dari laman resmi Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, ia mengatakan bahwa ditemukan bukti adanya tsunami yang terjadi kira-kira empat abad yang lalu, yang bertepatan dengan periode awal Kerajaan Mataram Islam. 

Pada Babad Tanah Jawi, Panembahan Senopati bertapa di Pantai Selatan sebelum mendirikan Mataram Islam untuk meminta bantuan kekuatan dari Sang Ratu Kidul. Saat ini, lokasi pertemuan Panembahan Senopati dan Ratu Kidul adalah Cepuri Parangkusumo. Setelah pertapaan, gelombang besar menghantam pesisir di mana Swargi Panembahan bertapa. Oleh karena itu, Panembahan Senopati percaya bahwa gelombang besar itu merupakan restu dari Sang Ratu Kidul agar Mataram Islam dapat berdiri.

Keterkaitan antara temuan ilmiah tentang tsunami berabad-abad lampau dan kisah dalam Babad Tanah Jawi menunjukkan bahwa mitologi bukan sekadar narasi simbolik, melainkan jejak ingatan kolektif atas peristiwa nyata yang pernah dialami masyarakat. Apa yang ditafsirkan sebagai restu dari kekuatan gaib dalam cerita Panembahan Senopati bisa dibaca ulang sebagai representasi bencana alam yang dahsyat, yang kemudian dibungkus dalam bahasa budaya agar lebih mudah diterima dan diwariskan.

Membaca Ulang Pesan Alam

Geomitologi mengajarkan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak pernah benar-benar terputus, melainkan terus terjalin melalui ingatan, cerita, dan simbol yang diwariskan lintas generasi. Apa yang selama ini kita anggap sebagai mitos atau legenda ternyata menyimpan rekaman pengalaman kolektif tentang bagaimana nenek moyang menghadapi bencana, membaca tanda-tanda alam, dan berusaha bertahan di tengah ketidakpastian lingkungan. Dengan cara yang sederhana, tetapi kuat, mereka mengemas pengetahuan tersebut dalam bentuk cerita agar mudah dipahami, diingat, dan dipatuhi oleh generasi berikutnya. 

Di era modern, ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat dan teknologi mampu menjelaskan banyak fenomena alam secara rasional, keberadaan geomitologi tetap relevan sebagai pelengkap perspektif pemahaman tentang bumi yang kita tinggali. Ia bukan tandingan sains, melainkan jembatan yang menghubungkan pengetahuan tradisional dengan pemahaman ilmiah masa kini. Dari sinilah kita belajar bahwa mitigasi bencana tidak selalu dimulai dari laboratorium atau data statistik, tetapi juga dari kearifan lokal yang telah teruji oleh waktu. 

Oleh karena itu, alih-alih menyingkirkan mitos sebagai sesuatu yang irasional, mungkin sudah saatnya kita membacanya kembali dengan sudut pandang yang lebih kritis dan reflektif, sebagai pesan tersembunyi dari masa lalu yang masih berusaha mengingatkan kita hari ini, bahwa alam selalu berbicara, dan pertanyaannya adalah, apakah kita masih mau mendengarkannya?

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!