Sistem navigasi satelit seperti GPS selama ini menjadi tulang punggung berbagai teknologi modern. Namun di balik kemudahan itu, ada satu persoalan besar, apa yang terjadi jika sinyal satelit terganggu atau bahkan hilang sama sekali? Di sinilah muncul inovasi baru bernama Pathfinder, sebuah sistem navigasi mandiri tanpa GPS yang dikembangkan oleh Aero Drop Systems (ADS).
Teknologi ini diperkenalkan melalui publikasi Military Embedded Systems sebagai terobosan penting dalam upaya menciptakan sistem navigasi yang tetap berfungsi meskipun koneksi dengan satelit terputus. Pathfinder dirancang sebagai kerangka kerja navigasi independen yang mampu menjaga kendaraan otonom tetap bergerak dan membuat keputusan sendiri, bahkan di tengah kondisi yang disebut “GPS-denied environment”.
Berbeda dengan sistem konvensional yang sepenuhnya bergantung pada sinyal GNSS (Global Navigation Satellite System), Pathfinder mengandalkan gabungan sensor dan kecerdasan buatan (AI) untuk menentukan posisi dan arah secara real-time. Di dalamnya, berbagai sensor bekerja bersama untuk memantau gerakan, lingkungan, dan orientasi kendaraan.
Data dari berbagai sumber ini kemudian dianalisis oleh sistem berbasis machine learning yang disebut self-correcting navigation intelligence (SNI). Teknologi ini memungkinkan Pathfinder untuk memverifikasi keandalan data, mengisolasi sinyal yang salah, dan menyesuaikan arah secara mandiri. Dengan kata lain, jika satu sensor gagal atau memberikan data keliru, sistem secara otomatis akan mengoreksinya menggunakan sumber lain.
Salah satu keunggulan utama Pathfinder adalah kemampuannya menghadapi situasi ketika sinyal GPS terganggu oleh jamming, spoofing, atau kondisi alam yang ekstrem. Dalam konteks pertahanan, kemampuan ini sangat penting sebab kehilangan navigasi dalam operasi militer bisa berakibat fatal. Sistem ini juga dirancang tahan terhadap manipulasi data lokasi sehingga menambah lapisan keamanan bagi kendaraan otonom di medan berisiko tinggi.
ADS mengembangkan Pathfinder dengan pendekatan modular. Artinya, sistem ini bisa diintegrasikan ke berbagai jenis platform, seperti kendaraan darat dan laut hingga pesawat nirawak. Dalam tahap awal, teknologi ini akan diimplementasikan pada platform logistik otonom milik perusahaan bernama Aerocrate.
Meski begitu, teknologi ini masih dalam tahap pengujian. ADS belum mengumumkan jadwal komersialisasi maupun hasil uji lapangan secara rinci. Namun, arah pengembangannya jelas, yaitu untuk menciptakan sistem navigasi yang tangguh, fleksibel, dan dapat diandalkan di berbagai kondisi lingkungan.
Inovasi seperti Pathfinder juga memiliki relevansi besar bagi kawasan kepulauan, seperti Indonesia. Banyak wilayah di Nusantara yang sulit dijangkau sinyal satelit secara stabil, seperti daerah 3T. Sistem navigasi yang tidak bergantung pada GPS dapat menjadi solusi bagi operasi logistik, pengawasan maritim, hingga misi kemanusiaan di wilayah terpencil.
