Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Arkeologi Digitalisasi 3D dan Masa Depan Pelestarian Warisan...
Arkeologi

Digitalisasi 3D dan Masa Depan Pelestarian Warisan Nusantara

Digitalisasi 3D dan Masa Depan Pelestarian Warisan Nusantara

Kemajuan teknologi digital kini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan industri dan komunikasi, tetapi juga mulai memainkan peran penting dalam upaya pelestarian warisan budaya. Di tengah ancaman kerusakan artefak akibat usia, bencana, hingga perpindahan koleksi ke luar negeri, teknologi kecerdasan artifisial atau AI dinilai mampu menjadi solusi baru untuk menjaga peninggalan sejarah Nusantara tetap lestari sekaligus mudah diakses masyarakat luas. Upaya inilah yang saat ini terus dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui berbagai riset digital berbasis teknologi mutakhir.

Melalui Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PRKAKS), BRIN mengembangkan teknologi digitalisasi artefak tiga dimensi atau 3D sebagai bagian dari strategi pelestarian budaya nasional. Teknologi tersebut diperkenalkan saat PRKAKS menerima kunjungan Program Studi Informatika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada Rabu, 6 Mei 2026.

Peneliti Ahli Madya PRKAKS BRIN, Nova Hadi Lestriandoko, menjelaskan bahwa pusat riset tersebut berfokus pada pengembangan machine learning, computer vision, dan cyber security guna memperkuat kedaulatan digital Indonesia. Salah satu proyek unggulan yang kini dikembangkan adalah digitalisasi arca peninggalan Hindu-Buddha menggunakan teknologi computer vision dan fotogrametri.

Pengembangan tersebut memungkinkan artefak dibuat dalam bentuk model 3D dengan tingkat detail sangat tinggi sehingga dapat dipelajari secara daring tanpa harus bersentuhan langsung dengan benda asli. Teknologi ini juga membuka peluang repatriasi digital, yakni menyatukan kembali data artefak yang berada di luar negeri dengan konteks sejarah asalnya di Indonesia tanpa perlu memindahkan fisik benda bersejarah tersebut.

Dalam prosesnya, BRIN memanfaatkan berbagai perangkat, seperti fotogrametri, lidar, dan pemindai genggam, untuk menghasilkan dokumentasi digital yang akurat hingga tingkat milimeter. Seluruh hasil pemindaian kemudian diintegrasikan ke dalam Lalita Interactive Catalog, katalog digital interaktif yang terhubung dengan repositori BRIN sehingga masyarakat dapat mengakses koleksi budaya Indonesia secara lebih mudah.

Pemanfaatan AI tidak berhenti pada proses pemindaian. Algoritma kecerdasan buatan juga digunakan untuk mengidentifikasi ikonografi, mengenali gaya seniman pembuat arca, hingga menelusuri asal-usul artefak secara lebih objektif dan presisi melalui pendekatan ikonometri 3D. Teknologi biometrik heritage tersebut dinilai mampu membantu peneliti memahami hubungan antarartefak yang tersebar di berbagai negara, termasuk koleksi arca Indonesia yang kini tersimpan di Belanda.

Kunjungan akademik tersebut sekaligus menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga riset nasional dalam memperkuat ekosistem inovasi berbasis teknologi. Dosen Program Studi Informatika UIN Sunan Kalijaga, Dwi Otik Kurniawati, menilai sinergi semacam ini penting agar mahasiswa tidak hanya memahami teori informatika di ruang kelas, tetapi juga melihat langsung penerapan teknologi dalam riset yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Melalui pengembangan digitalisasi 3D berbasis AI, BRIN menunjukkan bahwa pelestarian budaya kini dapat berjalan seiring dengan kemajuan teknologi modern. Langkah tersebut bukan hanya menjaga warisan sejarah Indonesia tetap terdokumentasi dengan baik, tetapi juga membuka akses yang lebih luas bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan budaya Nusantara di era digital.

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!