Default Title
Loading...
IMG-LOGO
Home Kebencanaan Memori Kolektif Gempa 2006 Perkuat Ketangguhan Mas...
Kebencanaan

Memori Kolektif Gempa 2006 Perkuat Ketangguhan Masyarakat Yogyakarta Hadapi Bencana di Masa Depan

Memori Kolektif Gempa 2006 Perkuat Ketangguhan Masyarakat Yogyakarta Hadapi Bencana di Masa Depan

Gempa besar yang mengguncang Yogyakarta pada 27 Mei 2006 masih meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat hingga hari ini. Dalam hitungan kurang dari satu menit, ribuan bangunan runtuh dan ribuan nyawa melayang. Peristiwa tersebut bukan hanya menjadi salah satu bencana paling memilukan dalam sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta, tetapi juga membentuk kesadaran baru tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa bumi di masa depan. Dua dekade setelah tragedi itu terjadi, memori kolektif masyarakat dinilai tetap memiliki peran penting dalam membangun ketangguhan menghadapi bencana.

Pakar kebencanaan dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Profesor Eko Teguh Paripurno, menilai ingatan bersama terhadap bencana dapat menjadi modal sosial yang sangat berharga. Menurutnya, ketangguhan masyarakat tidak hanya dibangun melalui infrastruktur tahan gempa atau kebijakan mitigasi yang dibuat pemerintah, tetapi juga melalui kesadaran kolektif masyarakat yang lahir dari pengalaman menghadapi bencana secara langsung.

Dilansir dari RRI, pria yang akrab disapa Kang ET tersebut menyebut Gempa Yogyakarta 2006 sebagai titik awal perubahan besar dalam cara masyarakat memandang risiko bencana. Peristiwa itu membuka kesadaran bahwa masyarakat Yogyakarta hidup berdampingan dengan ancaman gempa bumi yang sewaktu-waktu dapat terjadi kembali. Dari pengalaman itulah, tumbuh pemahaman bahwa pengelolaan risiko bencana harus dimulai dari tingkat masyarakat, bukan hanya bergantung pada intervensi pemerintah semata.

Ia menjelaskan, salah satu tantangan terbesar dalam mitigasi kebencanaan adalah munculnya amnesia kolektif. Seiring berjalannya waktu, masyarakat perlahan melupakan pengalaman pahit yang pernah dialami. Ketika ingatan terhadap bencana memudar, kewaspadaan dan kesiapsiagaan pun ikut menurun. Kondisi tersebut dinilai berbahaya karena dapat membuat masyarakat kembali rentan saat bencana serupa terjadi.

Menurutnya, ingatan terhadap bencana seharusnya tidak dipandang sebagai trauma yang harus dihindari, melainkan sebagai sarana pembelajaran untuk memperkuat kesiapan menghadapi ancaman di masa mendatang. Ketangguhan, menurutnya, bukan hanya kemampuan bertahan saat bencana terjadi, tetapi juga kemampuan untuk menyerap guncangan, beradaptasi terhadap perubahan, dan melakukan transformasi menuju kondisi yang lebih aman.

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam setiap proses pengambilan keputusan terkait mitigasi bencana. Warga tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan ketika situasi darurat terjadi, melainkan juga harus menjadi bagian aktif dalam perencanaan keselamatan dan pengurangan risiko bencana.

Bagi masyarakat Yogyakarta, gempa 2006 bukan sekadar catatan sejarah. Ingatan kolektif atas tragedi tersebut kini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus terus dirawat agar masyarakat tetap tangguh menghadapi ancaman bencana di masa depan. 

Tinggalkan Komentar

Anda harus login untuk memberikan komentar.

Komentar (0)


Jadilah yang pertama memberikan komentar!