Kebakaran besar kembali melanda zona eksklusi Chernobyl akibat sebuah kecelakaan drone pada 8 Mei 2026. Api yang terus membesar memicu kekhawatiran baru terhadap kemungkinan penyebaran zat radioaktif dari kawasan yang masih menyimpan jejak bencana nuklir 1986 itu. Meski demikian, para peneliti dan petugas di lapangan menyebut risiko kontaminasi di luar zona eksklusi sejauh ini masih tergolong rendah.
Cagar Biosfer Radiasi dan Ekologi Chornobyl menyatakan bahwa sekitar 12 kilometer persegi lahan di sebelah tenggara kota Chernobyl terbakar akibat jatuhnya drone di dekat bekas kolam pendingin reaktor nuklir. Menurut laporan NewScientist, hingga Jumat sore, lebih dari 330 personel dan puluhan kendaraan dikerahkan untuk mengendalikan api yang terus menyebar.
Petugas di garis depan kebakaran dilaporkan harus menghirup udara dengan konsentrasi radionuklida tinggi selama proses pemadaman. Setelah menyelesaikan tugas, mereka menjalani pemeriksaan kadar radionuklida di dalam tubuh sebagai langkah antisipasi terhadap paparan radiasi. Meski kondisi di area kebakaran cukup berbahaya, tingkat radiasi di wilayah yang berjarak 5 hingga 10 kilometer dari titik api disebut masih berada dalam batas normal.
Namun, citra satelit yang dianalisis sejumlah pihak menunjukkan area yang terbakar kemungkinan sudah meluas hingga 24,4 kilometer persegi. Asap tebal terlihat membumbung dari kawasan hutan di sekitar zona eksklusi, sementara akses menuju lokasi tertentu ditutup oleh militer demi alasan keamanan.
Kondisi cuaca turut memperparah situasi. Cuaca kering dan angin kencang membuat api bergerak cepat melintasi kawasan hutan. Proses pemadaman juga menjadi lebih sulit karena banyak area di sekitar Chernobyl masih dipenuhi ranjau darat sisa konflik perang Rusia-Ukraina. Beberapa titik bahkan terlalu berbahaya untuk dimasuki petugas pemadam sehingga sementara waktu dibiarkan terbakar sambil fokus diarahkan ke area yang lebih aman.
Zona eksklusi Chernobyl sendiri belakangan kerap dilintasi drone Rusia yang menuju Kyiv dan wilayah strategis lain di Ukraina. Tahun lalu, sebuah drone Rusia juga sempat menghantam pelindung New Safe Confinement, struktur raksasa yang menutupi sisa reaktor nuklir Chernobyl. Benturan itu menyebabkan lubang besar dan memunculkan kobaran api, meski beruntung tidak sampai merusak inti reaktor yang rapuh.
Kebakaran ini kembali menjadi pengingat bahwa Chernobyl masih menyimpan ancaman besar. Bahaya tidak hanya berasal dari sisa radiasi masa lalu, tetapi juga dari dampak konflik yang terus berlangsung di wilayah Ukraina.
