Ketahanan sistem navigasi dan penunjuk waktu modern kini menghadapi tantangan besar. Berbagai layanan penting, mulai dari transportasi, perbankan, listrik, hingga jaringan komunikasi, bergantung pada sinyal satelit untuk menentukan posisi dan waktu secara akurat. Selama ini, dunia sangat mengandalkan GNSS, seperti GPS untuk kebutuhan tersebut. Sistem ini memang sangat membantu aktivitas sehari-hari, tetapi di balik keandalannya terdapat sejumlah kelemahan yang tidak bisa diabaikan.
Sinyal satelit dapat diganggu secara sengaja melalui jamming atau pengacakan sinyal, serta spoofing atau pemalsuan sinyal. Selain itu, satelit juga menghadapi risiko gangguan di luar angkasa yang dapat mempengaruhi kinerjanya. Jaringan GNSS yang digunakan secara global dan saling terhubung mengakibatkan gangguan pada satu sistem utama berpotensi menimbulkan dampak luas yang dirasakan banyak negara sekaligus. Ketika sinyal terganggu, aktivitas ekonomi dan layanan publik bisa ikut terhambat.
Sadar akan risiko tersebut, Inggris mulai mencari cara agar tidak sepenuhnya bergantung pada satu sistem navigasi global. Melalui program TOUCAN (TWSTFT Capability Demonstration), Inggris menguji teknologi transfer waktu presisi dua arah lewat satelit atau two-way satellite time and frequency transfer (TWSTFT). Dilansir dari Spatial Source, program ini didukung oleh UK Space Agency dan UK National PNT Office, serta dikelola melalui NAVISP milik European Space Agency. Perusahaan GMV merancang sistemnya, sementara Viasat menyediakan jalur komunikasi satelitnya.
Sistem ini menghubungkan pemancar eLoran di darat dengan National Physical Laboratory sebagai lembaga resmi penjaga waktu Inggris. Melalui koneksi dua arah tersebut, data waktu dapat diperiksa dan diverifikasi secara lebih aman dan akurat. Langkah ini sekaligus menghidupkan kembali eLoran, sistem navigasi berbasis darat yang sebelumnya sempat ditinggalkan ketika GNSS mendominasi.
Versi modern eLoran tidak sepenuhnya bergantung pada satelit navigasi sehingga dapat berfungsi sebagai cadangan jika terjadi gangguan pada GNSS. Dengan memadukan infrastruktur darat dan satelit komunikasi, Inggris berupaya membangun sistem waktu alternatif yang lebih tahan terhadap gangguan.
Kepala UK Space Agency, Paul Bate, menegaskan bahwa waktu yang akurat dan aman merupakan fondasi layanan sehari-hari, mulai dari transaksi perbankan hingga sistem energi. Melalui proyek ini, Inggris ingin memastikan layanan publik dan bisnis tetap berjalan stabil meskipun sistem satelit global mengalami gangguan, sekaligus memperkuat kemandirian dan keamanan teknologinya di masa depan.
