Sebuah mobil pemudik asal Jakarta terjun ke sungai di Desa Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah pada Sabtu malam, 28 Maret 2026. Insiden ini terjadi setelah pengemudi tersesat di gang sempit perkampungan padat penduduk akibat mengikuti arahan dari aplikasi peta digital.
Mobil Kijang tersebut sedianya hendak menuju Kebumen. Sang sopir, Yopi, mengaku kebingungan setibanya di wilayah Ketanggungan lantaran adanya pemberlakuan sistem satu arah (one way) lokal pada jalur nasional Ketanggungan sampai Purwokerto.
Arus kendaraan dari arah Jakarta dialihkan menuju Simpang Ciremai, melewati Jalan Lingkar Bulakelor, sebelum diarahkan ke Flyover Dermoleng untuk melanjutkan perjalanan ke Purwokerto. Saat melintasi jalan lingkar itulah, Yopi memutuskan untuk membuka aplikasi peta digital di ponselnya guna mencari rute tercepat.
Namun, keputusan tersebut justru membawanya masuk ke dalam jalur sempit di tengah perkampungan warga yang padat. Petaka terjadi saat jalur yang dilewati ternyata buntu.
"Diarahkan sama Maps." ujar Yopi saat dimintai keterangan oleh TribunJateng.com. "Kemudian, di depan ditutup karena ada hajatan, ada acara, akhirnya disuruh mundur balik. Pas mundur itu, karena mungkin jalanannya masih licin karena bekas banjir, akhirnya tergelincir," lanjutnya.
Yopi melakukan perjalanan mudik tersebut bersama istri dan seorang anaknya. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tunggal ini. Meski demikian, proses evakuasi mobil memakan waktu yang cukup lama karena harus menunggu bantuan kendaraan derek datang ke lokasi kejadian.
"Alhamdulillah sama anak sama istri, tiga orang selamat. Dari Jakarta mau ke arah Kebumen. Memang ini diarahkan sama Maps," tambahnya lagi.
Mengapa Aplikasi Navigasi Sering Menyesatkan?
Peristiwa yang dialami Yopi bukanlah kasus pertama. Banyak pengendara yang kerap diarahkan ke jalan buntu, jurang, hingga sungai oleh aplikasi navigasi. Secara ilmiah dan teknis, ada beberapa faktor utama yang menyebabkan akurasi aplikasi navigasi menurun drastis:
1. Fenomena Multipath Error
Menurut European Space Agency via Arvento, masalah ini terjadi saat sinyal satelit tidak langsung sampai ke perangkat ponsel Anda, melainkan memantul terlebih dahulu pada objek lain. Di lingkungan dengan banyak bangunan tinggi atau pohon rimbun, sinyal GPS menjadi tidak murni karena bercampur dengan pantulan tersebut sehingga ponsel salah menghitung jarak dan lokasi.
2. Penghalang Fisik di Sekitar Penerima
Dr. Sanz Subirana dari Universitat Politècnica de Catalunya (UPC) menjelaskan bahwa penerima sinyal GPS sangat sensitif. Sinyal bisa terputus atau melemah secara drastis akibat atap gedung, pepohonan rimbun yang menyerap gelombang, atau saat kendaraan melewati terowongan dan underpass.
3. Pergeseran Lempeng Bumi dan Georeferencing
Ken Hudnut dari United States Geological Survey (USGS) memaparkan bahwa bumi terus bergerak akibat aktivitas tektonik lempeng. Hal ini memengaruhi georeferencing atau penyelarasan koordinat peta dengan kondisi geografis riil. Drew Smith dari National Geodetic Survey (NGS) menambahkan bahwa ada selisih sekitar dua meter antara sistem koordinat global (WGS84) yang dipakai GPS dan sistem lokal yang disesuaikan pergerakan lempeng.
4. Pembaruan Data yang Tertinggal
Aplikasi seperti Google Maps tidak mengumpulkan data geospasial sendirian, melainkan bekerja sama dengan institusi resmi setempat. Di negara berkembang, seperti Indonesia, proses pembaruan data peta sering kali tertinggal dari cepatnya pembangunan fisik atau perubahan dinamis di lapangan, seperti penutupan jalan darurat.
5. Triangulasi Menara Seluler
Saat sinyal GPS dan Wi-Fi melemah, ponsel akan beralih menggunakan pemancar sinyal operator seluler untuk mengira-ngira lokasi Anda. Metode ini jauh dari kata presisi karena hanya membaca jangkauan area luas, bukan titik spesifik tempat Anda berdiri.
Peristiwa yang dialami Yopi menjadi pengingat bahwa teknologi navigasi tetap memiliki keterbatasan, terutama ketika dihadapkan pada lingkungan yang dinamis. Keakuratannya dipengaruhi oleh banyak faktor. Oleh karena itu, pengguna aplikasi navigasi hendaknya memahami cara kerja teknologi yang digunakan sebelum memercayainya sepenuhnya.
