India kembali mempertegas ambisinya menjadikan teknologi geospasial sebagai fondasi pembangunan nasional. Setelah hadir dengan program SWAMITVA yang memetakan wilayah pedesaan untuk memberikan kepastian hukum atas tanah kepada masyarakat desa, kini pemerintah India meluncurkan NAKSHA Project (National Geospatial Knowledge-based Land Survey of Urban Habitations). SWAMITVA fokus pada desa, sedangkan NAKSHA berorientasi pada kawasan perkotaan dengan tujuan memperkuat tata kelola lahan dan perencanaan kota secara digital.
Proyek ini diinisiasi oleh Pemerintah India melalui Department of Land Resources (DoLR). Dalam proyek ini, Survey of India (SoI) bertanggung jawab memetakan 133 Urban Local Bodies (ULBs) di 27 negara bagian dan 3 wilayah persatuan. Dengan menggunakan UAV (unmanned aerial vehicles), proyek ini menghasilkan data geospasial akurat berupa Ortho-Rectified Imagery (ORI), Digital Surface Model (DSM), Digital Terrain Model (DTM), 3D Mesh Models, serta set data 2D/3D GIS-ready. Semua data ini dirancang untuk mendukung analisis spasial tingkat lanjut yang akan membantu perencanaan kota, mitigasi bencana, dan efisiensi pembangunan infrastruktur. Teknologi utama dalam proyek ini memanfaatkan fotogrametri berbasis UAV dan LiDAR (light detection and ranging). Berdasarkan kondisi topografi dan tingkat perkembangan kota, digunakan tiga konfigurasi berbeda:
-
Nadir RGB Camera, untuk kota yang berkembang horizontal dengan bangunan rendah.
-
Oblique Multi-Angle Camera, untuk kota dengan pertumbuhan vertikal yang signifikan.
-
Oblique Camera + LiDAR Sensor, untuk kota dengan pertumbuhan vertikal cepat di wilayah bergelombang atau perbukitan, terutama penting untuk pemodelan DTM dalam pengelolaan banjir.
Hingga saat ini, proses pemetaan udara dalam proyek NAKSHA sudah berjalan cukup jauh. Dilansir dari akun X resmi SoI, 106 kota dari total 133 kota yang menjadi target sudah dipetakan menggunakan drone. Dari hasil yang diperoleh, gambar udara presisi tinggi (ORI) telah dibuat untuk 102 kota, model permukaan digital (DSM) untuk 98 kota, dan model bentuk tanah digital (DTM) untuk 85 kota.
Selain itu, model 3D yang menampilkan bentuk bangunan dan struktur kota secara realistis telah selesai untuk 31 kota, sedangkan pemetaan fitur dua dimensi (2D) dan tiga dimensi (3D) masing-masing rampung di 77 dan 32 kota. Semua data tersebut kemudian diberikan kepada pemerintah daerah melalui portal Web-GIS, yang bisa diakses secara daring, serta dalam bentuk salinan luring untuk keperluan pengecekan langsung di lapangan.
Agar data yang dihasilkan lebih akurat dan mudah diverifikasi, proyek ini juga membangun stasiun referensi geospasial yang disebut Continuous Operating Reference Station (CORS) di 37 kota. Stasiun ini berfungsi membantu petugas daerah dalam memvalidasi data posisi dan peta yang dihasilkan. Selain itu, Survey of India berperan aktif melatih para pegawai pemerintah daerah agar mampu mengoperasikan teknologi pemetaan ini. Pelatihan dilakukan melalui National Institute of Geo-informatics Science and Technology (NIGST) di Hyderabad, serta dibantu oleh Geospatial Directorate di tingkat lokal. Pemerintah negara bagian juga didukung untuk memperoleh perangkat survei GNSS Rovers, yang digunakan mempercepat pengecekan data langsung di lapangan.
Dengan menggabungkan teknologi drone, LiDAR, dan sistem pelatihan nasional, NAKSHA Project menjadi langkah besar India dalam memperkuat tata kelola lahan perkotaan berbasis data geospasial. Proyek ini bukan hanya menghasilkan peta digital berkualitas tinggi, melainkan juga meningkatkan kemampuan teknis pemerintah daerah dalam menggunakan teknologi tersebut. Melalui kolaborasi dan inovasi ini, India sedang membangun fondasi penting menuju sistem pengelolaan kota yang lebih transparan, efisien, dan modern.
