Apa jadinya jika niat berziarah justru berubah menjadi petualangan tak terduga di tengah hutan? Inilah yang dialami rombongan peziarah asal Ngawi, Jawa Timur, saat mereka hendak menuju makam Sunan Muria di Kudus, Jawa Tengah. Alih-alih tiba di tujuan, bus besar yang mereka tumpangi justru tersesat di jalur sempit hutan perbatasan antara Desa Bageng dan Desa Plukaran, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati.
Dilansir dari detikJateng, semua bermula ketika sang sopir mengikuti rute yang ditunjukkan oleh aplikasi Google Maps. Jalur yang terlihat pendek di layar ponsel ternyata membawa bus tersebut ke jalan berbukit yang curam, berlumpur, dan menyempit di tengah kawasan hutan. Saat bus mencoba menanjak di jalur itu, kendaraan besar tersebut kehilangan tenaga dan akhirnya tidak mampu melanjutkan perjalanan.
Sebanyak 35 penumpang yang berada di dalam bus panik. Beruntung, tidak ada korban dalam kejadian itu. Warga setempat bersama aparat desa kemudian datang membantu mengevakuasi rombongan. Bus digantikan oleh kendaraan lain agar perjalanan ke makam Sunan Muria bisa dilanjutkan dengan aman.
Insiden ini dengan cepat menyebar di media sosial setelah beberapa warga merekam momen evakuasi. Tak lama kemudian, berita tentang bus peziarah nyasar ke hutan gara-gara Google Maps pun menjadi viral. Kasus ini bukan yang pertama. Sebelumnya, peristiwa serupa juga pernah dialami rombongan peziarah lain dari daerah yang sama, yang batal sampai ke makam karena tersesat di jalan pedesaan yang sama sekali tidak cocok untuk kendaraan besar.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kecanggihan teknologi tidak selalu menjamin keamanan di lapangan. Aplikasi peta digital seperti Google Maps memang dirancang untuk menunjukkan jalur tercepat, tetapi algoritmenya tidak selalu mempertimbangkan faktor penting, seperti kondisi jalan, lebar jalur, atau kemampuan kendaraan yang melintas.
Bagi kendaraan besar seperti bus, sistem navigasi bisa menuntun ke jalan yang terlalu sempit, menanjak, atau bahkan tidak beraspal. Jika pengemudi tidak mengenali medan dan hanya mengandalkan panduan digital, risiko tersesat atau terjebak bisa sangat besar, terutama di daerah perbukitan atau hutan, seperti kawasan Muria.
Selain itu, banyak jalan pedesaan yang belum diperbarui dalam data peta digital. Beberapa jalur yang ditampilkan sebagai jalan penghubung ternyata hanyalah jalan warga atau akses pertanian. Inilah yang sering kali membuat sopir salah arah tanpa menyadarinya.
Meski insiden ini berakhir tanpa korban, banyak pihak menilai kejadian tersebut sebagai pelajaran berharga. Operator bus dan agen perjalanan ziarah diimbau untuk tidak bergantung sepenuhnya pada aplikasi navigasi digital. Pengecekan rute secara manual, bertanya kepada warga setempat, atau menggunakan peta jalan resmi dari pemerintah daerah bisa menjadi langkah antisipatif yang jauh lebih aman.
