Asap pekat yang mengepul dari Gedung Terra Drone di Jakarta Pusat pada Selasa siang berubah menjadi tragedi kelam. Di balik tumpukan puing dan peralatan elektronik yang hangus, terungkap fakta bahwa bangunan itu tidak memiliki sistem pencegahan kebakaran yang memadai. Kondisi ruang yang dipenuhi sekat dan lorong-lorong sempit menjadikannya perangkap maut bagi puluhan karyawan yang tengah beraktivitas.
Karodokpol Pusdokkes Polri, Brigjen Nyoman Eddy Purnama Wirawan, menjelaskan bahwa struktur gedung yang bersekat-sekat mempersempit peluang evakuasi. Mayoritas korban diperkirakan tewas sebelum api menjilat tubuh mereka. "Kemungkinan karena menghirup gas karbondioksida. Pemeriksaan luar menunjukkan indikasi itu," terang Nyoman, dikutip dari Media Indonesia. Kepulan asap yang berputar di ruang tertutup membuat banyak karyawan tak sempat mencapai pintu keluar.
Dilansir dari Kabar24, hingga kini, Rumah Sakit Polri telah menerima 22 kantong jenazah dari lokasi kejadian. Tim Disaster Victim Identification (DVI) bekerja melakukan pemeriksaan primer dan sekunder untuk mengungkap identitas para korban. Dari hasil penyelidikan awal, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, mengungkap bahwa sumber kebakaran berasal dari baterai litium di lantai satu gedung.
"Sekitar pukul 12.30 memang ada baterai di lantai satu, itu yang terbakar," ujarnya. Karyawan sempat mencoba memadamkan api, tetapi baterai yang terbakar justru menyulut material lain di ruang penyimpanan dan merambat ke lantai-lantai di atasnya.
Situasi bertambah buruk karena saat kejadian banyak pekerja tengah beristirahat makan siang, sementara sebagian lainnya berada di lantai dua hingga enam. Ketika asap mulai memenuhi ruang, mereka kehilangan akses evakuasi. Diduga, menipisnya kadar oksigen membuat para korban cepat mengalami sesak hingga akhirnya meninggal karena lemas.
Meski penyidik menyimpulkan sementara bahwa pemicu kebakaran berasal dari baterai drone, penyebab awal baterai itu bisa terbakar masih ditelusuri. "Kalau dari keterangan tadi, memang sementara baru karena baterai ya, baterai dari drone yang terbakar. Namun sebabnya terbakar, saat ini Tim Labfor masih bekerja," ujar Susatyo.
Polisi juga akan memeriksa pemilik dan pihak manajemen Terra Drone untuk memastikan apakah ada unsur kelalaian dalam insiden ini. Polres Metro Jakarta Pusat turut mengonfirmasi fungsi gedung tersebut. Kantor itu bukan pabrik, melainkan pusat layanan perawatan drone. "Benar [perusahaan drone]. Tidak produksi, tapi [layanan] perbaikan dan kantor," kata Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra, dikutip dari Tirto.id.
Di tengah rangkaian penyelidikan yang terus berjalan, tragedi yang menewaskan 22 orang ini kembali menyoroti pentingnya sistem keselamatan gedung, terutama bagi fasilitas yang menyimpan komponen berisiko tinggi seperti baterai litium.
