Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO terus memantau perkembangan wabah hantavirus yang dikaitkan dengan kapal pesiar berbendera Belanda, MV Hondius. Kasus ini menjadi perhatian internasional setelah sejumlah penumpang dilaporkan terinfeksi virus mematikan tersebut usai mengikuti perjalanan wisata lintas negara di kawasan Amerika Selatan. Meskipun WHO menegaskan risiko terhadap masyarakat umum masih tergolong rendah, langkah antisipasi tetap dilakukan secara ketat karena wabah melibatkan banyak warga dari berbagai negara.
Menurut laporan SABC News, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut pihaknya telah memberi pemberitahuan kepada 12 negara yang warganya sempat turun dari kapal selama pelayaran berlangsung. Beberapa negara yang masuk dalam pemantauan, antara lain Kanada, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Otoritas kesehatan di Afrika Selatan juga ikut melakukan pelacakan terhadap penumpang pesawat yang diduga melakukan kontak dengan salah satu korban. Berikut daftar negara yang rentan terhadap penularan Hantavirus:
- Jerman
- Denmark
- Kanada
- Turki
- Belanda
- Selandia Baru
- Swedia
- Swiss
- Inggris
- Amerika Serikat
- Singapura
- Saint Kitts dan Nevis
Penyelidikan sementara menunjukkan bahwa sumber paparan kemungkinan berasal dari perjalanan pengamatan burung di kawasan Argentina, Cili, dan Uruguai. Di wilayah tersebut ditemukan populasi hewan pengerat yang membawa virus Andes, salah satu jenis hantavirus yang dikenal memiliki kemampuan penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu, terutama melalui kontak dekat dalam waktu lama.
WHO menjelaskan bahwa kapal MV Hondius sebelumnya berlayar dari Argentina menuju Cape Verde sebelum kasus mulai terdeteksi. Hingga kini, tercatat delapan kasus terkait wabah tersebut, termasuk tiga korban meninggal dunia. Lima kasus telah dipastikan positif hantavirus, sedangkan tiga lainnya masih berstatus dugaan.
Baca juga: Drone Berhasil Rekam Nasib Kapal Pesiar yang Terisolasi di Tengah Laut Akibat Wabah Hantavirus
Rangkaian kejadian bermula ketika seorang penumpang yang terinfeksi meninggal dunia di atas kapal pada 11 April. Istrinya kemudian meninggal setelah melakukan perjalanan ke Johannesburg. Korban ketiga, seorang perempuan lain yang berada di kapal, dilaporkan meninggal pada 2 Mei. Selain itu, beberapa penumpang lain harus dievakuasi dan menjalani perawatan di rumah sakit yang berada di Afrika Selatan, Belanda, dan Jerman.
Sebagai langkah penanganan, WHO bekerja sama dengan berbagai pemerintah untuk melakukan upaya pengendalian internasional. Seluruh penumpang diminta tetap berada di kabin masing-masing, sementara proses disinfeksi dilakukan di seluruh area kapal. Tim medis khusus juga diterjunkan untuk memantau kondisi kesehatan penumpang dan mengevaluasi kemungkinan penyebaran infeksi lebih lanjut.
Meski situasi masih terus dipantau, WHO menegaskan bahwa wabah sejauh ini dinilai masih terkendali. Namun, kasus ini menjadi pengingat bahwa penyakit zoonosis yang berasal dari hewan liar tetap dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan global, terutama di tengah tingginya mobilitas perjalanan internasional.
