Pemerintah Korea Selatan mengalokasikan dana sebesar Rp78 miliar (US$4,7 juta) melalui Republic of Korea–Pacific Islands Forum Cooperation Fund untuk mendukung program perencanaan tata ruang pesisir dan laut di negara-negara kepulauan Pasifik. Dana tersebut disalurkan kepada Pacific Community (SPC), Korea Institute of Ocean Science and Technology (KIOST), serta Pacific Islands Forum Secretariat sebagai lembaga pelaksana. Program yang berlangsung selama empat tahun ini diberi nama Development of Decision Ready Tools to Support Coastal and Marine Spatial Planning (II), yang merupakan kelanjutan dari fase pertama yang sebelumnya berfokus pada penyediaan alat bantu pengambilan keputusan bagi perencanaan ruang laut di Tuvalu.
Pada fase kedua ini, cakupan proyek diperluas ke Tuvalu, Tonga, dan Republik Kepulauan Marshall, dengan tujuan utama mengembangkan sistem pendukung keputusan berbasis data spasial untuk pengelolaan wilayah laut dan pesisir. Dalam konteks analisis geospasial, proyek ini berfokus pada pemahaman perubahan lingkungan pesisir, baik dari segi ruang maupun waktu, dengan memanfaatkan teknologi pengindraan jauh satelit. Pendekatan ini memungkinkan analisis mendalam terhadap dinamika garis pantai, pola penggunaan lahan pesisir, serta karakteristik gelombang laut yang memengaruhi stabilitas ekosistem pesisir.
Menurut Dr. Chan-Su Yang, peneliti utama dari KIOST sekaligus Principal Investigator proyek ini, pengindraan jauh satelit akan menjadi kunci untuk memahami kondisi historis dan terkini wilayah pesisir negara-negara kepulauan Pasifik. Dilansir dari Spatial Source, data yang dihasilkan akan digunakan untuk menyempurnakan algoritma pendeteksian perubahan garis pantai dan klasifikasi lahan pesisir. Melalui penyempurnaan algoritma tersebut, proyek ini diharapkan mampu menghasilkan informasi spasial hampir waktu nyata (near-real-time) yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh lembaga nasional di negara peserta untuk merespons perubahan lingkungan secara cepat dan tepat.
Selain menghasilkan peta ekosistem laut dan habitat dengan resolusi tinggi, proyek ini juga bertujuan mengidentifikasi dampak aktivitas manusia terhadap kawasan pesisir dan menyediakan alat pendukung keputusan yang mudah digunakan. Proses implementasi proyek akan dilaksanakan oleh SPC melalui fasilitas Digital Earth Pacific, yang menjadi platform utama untuk pengolahan dan penyajian data spasial. Rhonda Robinson, Direktur Divisi Geoscience, Energy and Maritime SPC, menyatakan bahwa proyek ini akan membantu lembaga nasional dalam menginterpretasikan dan menerapkan data geospasial ke dalam perencanaan tata ruang laut dan pesisir, serta memperkuat kerja sama antarnegara di Pasifik dalam tata kelola sumber daya kelautan.
Pendekatan geospasial yang diterapkan dalam proyek ini menunjukkan pergeseran dari metode pengelolaan konvensional menuju pengambilan keputusan berbasis data ilmiah. Melalui kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, dan organisasi regional, program ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan lingkungan, memperkuat tata kelola sumber daya pesisir dan laut, serta menyediakan informasi spasial yang akurat dan dapat diakses untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan Pasifik yang rentan terhadap dampak perubahan iklim dan bencana alam.
