Upaya rehabilitasi ekosistem mangrove di pesisir Banten memasuki babak baru dengan dukungan teknologi digital. Melalui pemanfaatan Open Street Map (OSM), proses pemetaan dilakukan secara partisipatif sehingga perkembangan mangrove dapat terdokumentasi secara terbuka dan terkini.
Inovasi ini lahir dari program Mangrove Blue Carbon, hasil kolaborasi Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), PT Asahimas Chemical (ASC), Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Yayasan Lestari Alam Kita (SALAKA), serta didukung oleh HOT OSM Asia-Pacific.
Ketua Tim Mangrove Blue Carbon Banten, Adi Susanto, menegaskan pentingnya pemanfaatan OSM untuk mendukung keterlibatan publik. “Perkembangan aktivitas rehabilitasi dapat diperbarui langsung oleh masyarakat maupun pemangku kepentingan. Hal ini penting agar kondisi mangrove terdokumentasi dengan baik,” ujarnya, Kamis, 18 September 2025 dikutip dari radarbanten.co.id.
Sementara itu, perwakilan HOT OSM Asia-Pacific, Harry Mahardika, menjelaskan alasan penggunaan OSM dalam program ini. Menurutnya, platform tersebut bersifat gratis, terbuka, dan kolaboratif. “Dengan cara ini, keberlanjutan pemutakhiran data akan lebih terjamin,” katanya, dikutip dari RRI.co.id. Ia menambahkan, OSM juga kompatibel dengan aplikasi GIS maupun ponsel pintar sehingga proses pengumpulan data lapangan menjadi lebih efektif.
Dari sisi lembaga lingkungan, Manajer Program KEHATI, Toufik Alansar, menyebut penerapan OSM untuk ekosistem mangrove di Banten merupakan yang pertama di Indonesia. “Kolaborasi ini membuktikan pentingnya sinergi antar pemangku kepentingan agar manfaat program Mangrove Blue Carbon dapat dirasakan luas,” ungkapnya.
Komitmen serupa datang dari PT Asahimas Chemical. Perwakilan perusahaan, Nendi Pebriadi, menilai pemanfaatan OSM berperan besar dalam pengelolaan data dan program. “OSM membuat informasi lebih mudah diakses secara up to date, baik untuk monitoring maupun evaluasi,” jelasnya.
