Gaza menjadi salah satu kawasan dengan tingkat kerusakan paling parah akibat genosida yang dilakukan oleh Israel. Berbagai laporan internasional sering menyajikan angka korban jiwa dan jumlah bangunan yang runtuh. Namun, cara lain yang makin diandalkan untuk memahami skala kehancuran adalah melalui analisis geospasial. Analisis tersebut merupakan sebuah metode yang menggunakan citra satelit untuk melacak perubahan di permukaan bumi.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Grey Dynamics menunjukkan wajah yang konsisten. Wilayah utara Gaza terutama daerah kota mengalami kerusakan jauh lebih parah dibandingkan bagian selatan.
Analisis citra satelit antara 2023 hingga 2025 menunjukkan bahwa area rusak di utara Gaza mencapai lebih dari 105 km², sedangkan di sekitar Khan Younis di selatan sekitar 41,3 km². Perbandingan ini menggarisbawahi skala kehancuran yang jauh lebih masif di utara. Selain bangunan, kerusakan juga melanda lahan pertanian dan ruang hijau.
Indeks kesehatan vegetasi (NDVI), yang sebelumnya menunjukkan kondisi subur pada pertengahan 2023, merosot drastis dua tahun kemudian. Lahan yang dulu hijau kini berubah menjadi area gersang, menandakan runtuhnya salah satu sumber daya penting bagi ketahanan pangan warga Gaza.
