Dengan lebih dari 3 miliar perangkat Android aktif di seluruh dunia, Google siap meluncurkan sebuah terobosan inovatif yang mengubah cara kita memahami mitigasi bencana. Saat ini, Google tengah mengembangkan sistem deteksi gempa berbasis ponsel Android.
Dengan memanfaatkan sensor akselerometer yang tertanam dalam miliaran perangkat, sistem ini mampu menangkap getaran awal gempa (gelombang P) secara real-time. Teknologi ini menjadikan smartphone bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga sensor geospasial aktif yang dapat memantau aktivitas bumi melalui jaringan global yang tersebar luas.
Sistem ini bekerja melalui pendekatan deteksi kolektif yang disebut distributed sensing. Saat banyak ponsel dalam keadaan diam dan terhubung ke daya listrik mendeteksi pola getaran yang serupa, sinyal dikirim secara anonim ke server Google. Jika cukup banyak perangkat mengirim sinyal dari lokasi yang berdekatan, sistem akan menganalisis data tersebut untuk memperkirakan lokasi episentrum dan kekuatan gempa, lalu mengirimkan peringatan dini kepada pengguna yang berada di zona rawan.
Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science pada 2024, pendekatan ini telah berhasil mendeteksi lebih dari 11.000 gempa antara tahun 2021 hingga 2024 di hampir 100 negara. Bahkan, notifikasi dikirimkan dengan kecepatan antara 15 hingga 60 detik sebelum guncangan utama terasa.
Menariknya, sistem ini juga kompatibel dengan sistem peringatan resmi yang sudah ada. Di Amerika Serikat, teknologi Google terintegrasi dengan ShakeAlert dari USGS (lembaga geologi AS), yang memperkuat keandalan peringatan yang dikirimkan.
Sementara itu, di wilayah tanpa sistem nasional, Google menjalankan layanan mandiri dengan dua tingkat peringatan, “Be Aware”, atau waspada, untuk guncangan ringan dan “Take Action”, atau ambil tindakan, untuk guncangan kuat. Notifikasi tersebut dirancang sesederhana mungkin agar bisa dipahami dengan cepat, yang memberi waktu krusial bagi masyarakat untuk mengambil tindakan penyelamatan.
