Peran teknologi geospasial kembali menjadi sorotan publik setelah munculnya kontroversi terkait penggunaan gas air mata dalam aksi massa di sekitar Universitas Islam Bandung (UNISBA) pada 1–2 September 2025. Peristiwa ini bukan hanya soal bentrokan antara aparat dan massa, melainkan juga menyangkut kebenaran narasi yang disampaikan oleh pihak kepolisian dan kesaksian mahasiswa di lapangan. Di tengah simpang siur informasi, teknologi geospasial hadir sebagai instrumen penting yang mampu menghadirkan bukti berbasis data ilmiah. Dengan analisis atmosfer yang objektif, peristiwa sosial seperti ini tidak lagi hanya dipahami lewat klaim sepihak, tetapi bisa diuji melalui fakta yang terukur.
Dalam kasus UNISBA, ahli BRIN Prof. Dr. Erma Yulihastin memanfaatkan Automatic Weather Station (AWS), sebuah sistem stasiun cuaca otomatis yang dirancang untuk mengukur dan mencatat parameter-parameter meteorologi secara real-time. Teknologi ini terdiri atas sensor, data logger, sistem komunikasi, catu daya, hingga peralatan pendukung lainnya yang bekerja secara terpadu. AWS tidak hanya mengumpulkan data kecepatan dan arah angin, tetapi juga parameter lain, seperti suhu, tekanan udara, dan kelembapan. Dengan data ini, Erma mampu menelaah kondisi atmosfer secara detail dan membuktikan ada atau tidaknya angin kencang yang diklaim aparat sebagai penyebab asap gas air mata masuk ke area kampus.
Kronologi Serta Klaim Kepolisian dan Massa Aksi
Dilansir dari Tempo, aparat kepolisian menembakkan gas air mata di jalan raya saat terjadi bentrokan dengan massa berpakaian hitam yang disebut memprovokasi dengan lemparan bom molotov. Polisi mengklaim asap gas kemudian masuk ke area kampus akibat tertiup angin. Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Hendra Rochmawan, bahkan menegaskan bahwa narasi polisi menyerbu kampus dan menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa adalah sebuah hoax yang sengaja dibangun untuk mencoreng citra aparat.
Namun, kesaksian dari lapangan memberikan gambaran berbeda. Seorang mahasiswa UNISBA yang enggan disebutkan namanya menuturkan bahwa penembakan gas air mata berlangsung dalam beberapa gelombang. Gelombang pertama dimulai sekitar pukul 21.45 WIB, lalu sempat terhenti sekitar pukul 22.40 WIB ketika situasi terlihat agak mereda. Akan tetapi, justru pada momen tersebut listrik di area kampus padam secara tiba-tiba, membuat kondisi makin mencekam karena mahasiswa terjebak dalam suasana gelap gulita dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sekitar pukul 23.35 WIB, serangan kembali dilancarkan dengan intensitas yang lebih tinggi. Menurut kesaksian mahasiswa tersebut, ia mendengar teriakan "polisi, polisi" dari berbagai arah, disertai kepanikan massa yang berlarian masuk ke area kampus untuk menyelamatkan diri. Kondisi ini memperlihatkan bahwa asap gas air mata memang menyelimuti lingkungan kampus, meski hingga kini masih menjadi perdebatan apakah gas itu masuk karena tertiup angin dari jalan raya seperti klaim aparat, atau justru ditembakkan langsung ke area dalam kampus sebagaimana diyakini sebagian mahasiswa.
AWS Ungkap Kondisi Lapangan
Ahli Penelitian Iklim dan Atmosfer dari BRIN, Prof. Dr. Erma Yulihastin, memberikan analisis dengan memanfaatkan data atmosfer berbasis geospasial terkait kejadian tersebut. Melalui akun X miliknya, ia menyampaikan bahwa pada malam terjadinya peristiwa di sekitar UNISBA, tidak tercatat adanya embusan angin kencang di wilayah Sukaluyu dan sekitarnya. Data dari AWS yang tersedia di situs wunderground.com, berjarak sekitar 2–3 kilometer dari lokasi kampus, menunjukkan kecepatan angin relatif rendah dengan arah bertiup dari utara, barat laut, hingga timur laut.
